Sejarah tidak selalu terletak pada arsip-arsip yang lama dianggap sebagai otoritas kebenaran sejarah. Pasalnya, arsip adalah milik pemenang. Permasalahan di Indonesia, sebagaimana pernah diutarakan Gerry van Klinken, bahkan arsip milik pemenang itu pun terbengkalai tak keruan. Di dalam konteks itu, sastra dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk ‘menyelamatkan’ ‘arsip-arsip’ non milik pemenang. Katakanlah arsip dari ingatan korban atau dia yang kalah. Pada konteks itu, baik juga untuk membicarakan sastra yang mengangkat perihal 1965 dan perihal masyarakat yang dari perspektif tertentu dimarjinalkan.