plot non linear novel ini mirip film Pulp Fiction. Bedanya, novel ini tentu punya keunggulan etnologis yang otomatis sudah ada dengan meminjam nama Oetimu sebagai setting. Alur awal sampai pertengahan novel menurut gw adalah hal yang masih menarik untuk ditelusuri, tapi setengah ke belakang terasa kehilangan fokus terutama dengan bumbu bumbu cerita yang mungkin berlebihan. bumbu apakah itu? iykwim