Celoteh Hati

Aku Mau Berhenti Menulis


Listen Later

“AKU MAU BERHENTI MENULIS!”
Oleh: Anita Rachman
Menulis itu capek… Belum ditambah amanah-amanah lain yang cukup meguras waktu dan energy. Wajar kok capek, kita manusia, bukan robot. Tapi coba deh kita lihat di luar sana buanyaaaak yang galau karena nggak punya kerjaan? Mati gaya karena nggak tahu musti ngapain? Akhirnya terjerumus melakukan yang mubah, makruh bahkan bisa jadi maksiat, hanya karena ingin membunuh kebosanan.
Jadi, bersyukurlah jika kita disibukkan dengan banyak aktivitas. Pertama, tidak akan ada istilah mati gaya. Kedua, ini bukti kita dimampukan Allah untuk bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain. Ketiga, bukankah ini kesempatan emas kita mengumpulkan pahala menyebar kebaikan lewat tulisan
Tapi, nanti Udah capek-capek nulis, nggak ada yang respon. Sekalinya ada, bukan pujian tapi malah hujatan, nyinyiran… kan sakit…” Oke… berarti itu menulisnya belum ikhlas karena Allah. Karena kalau kita menulis dalam rangka dakwah, benar-benar ikhlas karena Allah, kita tidak akan terpengaruh dengan penilaian orang.
Respon pembaca itu adalah hasil yang tidak bisa kita kontrol. Ranah kita hanya ikhtiar menyampaikan yang haq itu haq, yang batil itu batil. Selebihnya, berserah pada Allah
Jangan kira saat ada pembaca yang tersentuh dengan tulisan kita, itu karena tulisan kita bagus. Faktanya, tulisan yang jauh lebih bagus dari kita banyak bertebaran di luar sana. Tapi, itu semua terjadi tidak lain atas ijin Allah, bahwa tulisan kita menjadi perantara turunnya hidayah.
Trus, yang tidak kalah penting mengapa kita harus terus menulis adalah, kita bisa sama-sama melihat, betapa opini-opini yang perlahan tapi pasti mereduksi sebagian ajaran Islam begitu massif digulirkan. Ide-ide kufur liberalisme yang megusung kebebasan bergaul, bebas memilih pasangan sejenis terus digaungkan atas nama hak asasi manusia. Perempuan muslimah digempur dengan kampanye menuntut kesetaraan gender yang dibalut cantik dalam gerakan feminisme Islam. Semuanya seolah benar, tampak baik sehingga perlahan-lahan menggiring akal kita untuk menerima, ooh iya ya, benar juga ya. Akhirnya tanpa sadar kita terserat mengikuti propaganda mereka.
Nah, dengan cara apa kita akan melawannya kalau tidak dengan tulisan-tulisan yang menyadarkan umat bahwa semua itu adalah jebakan sistem sekulerisme yang justru akan semakin menjauhkan kita dari Islam.
“Tapi, Kadang buntu nggak ada ide. Mentog, mandeg, bingung mau nulis apa” Naaaah, kalau itu mah alasan yang dibuat-buat aja. Hari gini habis ide? Broo…Siss… Selama akal kita masih bekerja alias sehat, nggak gila, selama itu pula ide akan tetap ada. Hanya tinggal kita mau menggalinya atau tidak. Gadget punya, buku banyak, guru selalu welcome, komunitas nulis bertebaran. Itu semua sumber ide kan?
“Ah, sudahlah, terlalu banyak cara untuk tidak bisa berhenti menulis…”Mereka yang melakukan maksiat saja istiqomah, masak kita yang jelas-jelas menyebarkan kebaikan malah lemah? Jangan dikira mereka tidak capek. Mereka juga merasakan seperti yang kita rasakan, karena kita semua sama-sama manusia. Bedanya adalah ide yang dibawa. Kita membawa ide yang sempurna juga mulia. Yaitu Islam. Tidakkah itu cukup menjadi motivasi kuat untuk tetap menulis? Tidakkah kita mau menjadi bagian dari mereka yang berjuang menyuarakan kebenaran dan membongkar kemungkaran? Tidak perlu menggunakan senjata, tapi cukup dengan mengangkat pena.
“YAKIN, MAU BERHENTI MENULIS?”
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Celoteh HatiBy Anita Rachman