Allah Mengangkat Derajat Orang Yang Rendah Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 19 Rabi’ul Awal 1443 H / 25 Oktober 2021 M.
Kajian sebelumnya: Faedah-Faedah Dari Kisah Ashabul Ukhdud
Ceramah Agama Islam Tentang Allah Mengangkat Derajat Orang Yang Rendah Hati
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ashabul Ukhdud adalah sebagai berikut:
4. Barangsiapa yang rendah hati karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya
Pelajaran ini diambil dari sabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa anak muda itu mendatangi Rahib dan mengabarkan apa yang telah terjadi. Dimana anak muda itu dengan izin Allah membunuh binatang besar yang menghalangi manusia.
Kemudian Rahib berkata: “Wahai anakku, engkau hari ini sudah lebih mulia dariku. Sungguh engkau telah sampai kepada perkaramu dari apa yang aku lihat ini.”
Ini pelajaran yang sangat besar tentang masalah tawadhu’. Kami khususkan hal ini untuk ahlul ilmi, para Dai dan juga selain mereka.
Dari sini kita tahu tentang tawadhu’nya Si Rahib. Hakikatnya Rahib itu lebih utama dari anak muda tadi. Karena dia yang mengajarkan anak muda itu tauhid. Seandainya tidak bertemu dengan Rahib dan tidak diajarkan tauhid, mungkin anak muda ini sudah menjadi tukang sihir besar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Rendahkanlah dirimu kepada orang-orang beriman yang mengikuti engkau.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 215)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan sabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabbnya dipagi hari dan disore hari yang hanya menginginkan wajah Allah semata. Jangan dua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah mengikuti orang yang kami telah lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan perkaranya dia melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi[18]” 28)
Ini adalah perintah dari Allah untuk sabar dan tawadhu’ bersama orang-orang yang tidak mampu, kekurangan, kesusahan, kemiskinan namun mereka dalam ketaatan.
Manfaat tawadhu’
Adapun hasil dari tawadhu’, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan dalam sabdanya:
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewahyukan kepadaku, hendaknya kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada seseorang berbangga-bangga diatas yang lainnya, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lainnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Harta tidak akan mungkin berkurang karena sedekah, tidaklah seorang memberikan maaf kepada orang lain melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala malah menambahkan kemuliaan pada orang tersebut, dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah melainkan pasti diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)