Radio Rodja 756 AM

Bab Al-Hasab


Listen Later


Bab Al-Hasab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 2 Rabi’ul Awal 1445 H / 18 September 2023 M.







Kajian Islam Tentang Bab Al-Hasab



Hasab adalah kemuliaan yang seseorang merasa terhormat dengan darah birunya, kemudian mereka merasa bangga dengan latar belakang keluarganya, termasuk ayah, kakek, atau kerabat. Istilah “Al-Hasab” berasal dari kata “Al-Hisab,” yang memiliki arti menghitung. Dalam budaya Arab dahulu, kalau seorang ingin membanggakan kehormatan nenek moyangnya, maka mereka menghitungnya. Mana yang lebih banyak, maka dianggap lebih mulia daripada yang lain.



Dalam hadits yang disebutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa seorang wanita dinikahi karena empat hal; yaitu hartanya, kecantikannya, hasabnya (kehormatan dan kemuliaan), dan agamanya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa beruntunglah seseorang jika mendapatkan wanita yang agamanya baik. Apalagi kalau agamanya baik, cantik, bangsawan (memiliki kemuliaan) dan kaya. Memang terkadang sulit untuk mendapatkan yang seperti itu.



Berkaitan dengan Al-Hasab, Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



إِنَّ الْكَرِيمَ ابْنَ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ‏.



“Sesungguhnya seorang yang mulia, putranya orang yang mulia, cucunya orang yang mulia, cicitnya orang yang mulia, Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam, putranya Nabi Ya’qub, putranya Nabi Ishaq, putranya Nabi Ibrahim ‘Alaihimush Shalatu was Salam.” (HR. Bukhari )



Ini kalau kita lihat sebuah kemuliaan dan kehormatan yang bukan berkaitan dengan nasabnya saja, tapi dengan nasab yang berbalut kenabian. Dan kita tahu tidak ada anugerah yang lebih besar daripada kenabian yang Allah berikan kepada hambaNya.



Kemudian kita akan melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala berbicara tentang kemuliaan dan kehormatan, itu tidak berkaitan dengan nasab. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



إِنَّ أَوْلِيَائِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُتَّقُونَ، وَإِنْ كَانَ نَسَبٌ أَقْرَبَ مِنْ نَسَبٍ، فَلاَ يَأْتِينِي النَّاسُ بِالأَعْمَالِ وَتَأْتُونَ بِالدُّنْيَا تَحْمِلُونَهَا عَلَى رِقَابِكُمْ، فَتَقُولُونَ‏:‏ يَا مُحَمَّدُ، فَأَقُولُ هَكَذَا وَهَكَذَا‏:‏ لاَ، وَأَعْرَضَ فِي كِلا عِطْفَيْهِ‏.



“Sesungguhnya kekasih-kekasihku pada hari kiamat adalah orang-orang yang bertakwa. Walaupun sebagian nasab memang lebih dekat dengan nasab yang lainnya. Jangan sampai nanti orang-orang pada hari kiamat datang membawa amalan, sedangkan kalian (yang nasabnya dekat dengan nabi) membawa dunia di pundakmu, lalu kalian berkata (meminta syafaat): ‘Wahai Muhammad!’ Maka saya menjawab begini dan begini, tidak. Saya akan berpaling dari kedua hal tersebut.”‘ (HR. Bukhari)



Orang yang bertakwa yaitu yang senantiasa mengingat Allah dan tidak melupakanNya, taat dan patuh kepada Allah dan tidak durhaka, bersyukur kepada Allah dan tidak kufur kepadaNya, suka berinfak dalam kondisi suka atau duka, dalam kondisi luas atau sempit,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings