Radio Rodja 756 AM

Bahaya Mengagungkan Kuburan Orang Shalih


Listen Later

Bahaya Mengagungkan Kuburan Orang Shalih adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 21 Rabi’ul Akhir 1444 H / 16 November 2022 M.

Kajian Tentang Bahaya Mengagungkan Kuburan Orang Shalih
Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Dan masih saja setan membisikkan kepada para penyembah-penyembah kubur dan memberikan ke dalam diri mereka bahwa membangun dan beri’tikaf di sekitar kuburan adalah termasuk daripada mencintai penghuni kubur dari para Nabi ataupun orang-orang shalih, bahwa doa di sisi kuburan orang-orang shalih dikabulkan.
Kemudian setan memindahkan dari tingkatan itu untuk berdoa dengan menjadikan orang-orang yang sudah dikubur sebagai perantara, bersumpah atas Allah dengan orang-orang yang sudah dikubur tersebut. Padahal sesungguhnya kedudukan Allah lebih agung sehingga tidak patut diucapkan sumpah dengan menyebut nama orang-orang shalih tersebut di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau daripada Allah dimintai dengan menyebutkan orang-orang dari makhluk-makhlukNya.
Kalau sudah tetap hal itu pada diri mereka, maka mereka berpindah dari keadaan seperti itu kepada berdoa dan beribadah kepada penghuni kubur, dan meminta syafaat kepada selain Allah, menjadikan kuburan orang shalih tersebut sebagai berhala yang digantungi kain dan botol-botol, terkadang thawaf di sekelilingnya, diusap dan dicium, bahkan diniati untuk menunaikan ibadah haji kepada kuburan tersebut, terkadang menyembelih di sisi kuburan tersebut.
Kalau itu sudah dilakukan, maka berpindah dari mengajak manusia untuk beribadah kepada orang yang sudah dikubur tadi, dan akhirnya menjadikan kubur tersebut sebagai tempat yang diziarahi berulang-ulang, dan sebagai tempat ibadah. Mereka menganggap bahwa perbuatan demikian lebih bermanfaat bagi mereka dalam urusan dunia dan akhirat mereka.
Semua ini sudah diketahui secara pengetahuan yang sangat mendasar dari ajaran Islam bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan risalah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berupa mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah itu, maka berpindah lagi kepada yang lebih parah. Yaitu siapa yang melarang perbuatan tadi, maka sungguh dia telah meremahkan orang-orang yang memiliki martabat yang tinggi, dan menurunkan dari kedudukan mereka. Ia mengira bahwa tidak ada kehormatan dan kedudukan bagi mereka, maka orang-orang musyrik pun marah dan gusar hati-hati mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Jika disebut nama Allah semata, maka murka hati-hati orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan jika disebutkan orang-orang yang disembah selain Allah, maka mereka gembira.” (QS. Az-Zumar[39]: 45)
Hal ini berlaku pada kebanyakan orang-orang yang tidak mengerti dan orang-orang yang rendah ilmunya, bahkan kebanyakan dari orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ilmu dan agama, sampai mereka memusuhi orang-orang yang berusaha mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan yang keji, dan menjauhkan manusia dari mereka, dan mereka loyal kepada orang-orang musyrik, dan sangat mengagungkan orang-orang musyrik. Mereka menganggap bahwa mereka adalah wali-wali Allah, penolong agama dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings