Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 11 Rajab 1445 H / 23 Januari 2024 M.
Download kajian sebelumnya: Kabar Gembira dengan Adzab yang Pedih – Tafsir Surah Ali Imran 21-22
Batilnya Angan-angan – Tafsir Surah Ali Imran 24
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
“Yang demikian itu karena mereka berkata, ‘Kami tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari yang terhitung saja.’ Dan itu menipu mereka dalam agama mereka dengan apa yang mereka telah ada-adakan.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 24)
Allah menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang tertipu dengan angan-angan. Syaikh Utsaimin Rahimahullah menjelaskan bahwa mereka tertipu dalam agama karena menyangka bahwa mereka berada di atas kebenaran, bahkan sebagian mereka sengaja menolak kebenaran padahal mereka tahu. Mereka berkata, “Kami tidak akan disentuh neraka kecuali beberapa hari saja.” Mereka ucapkan itu karena meremehkan neraka.
Dari ayat ini, kita dapat mengambil faedah:
Batilnya angan-angan
Terkadang jiwa manusia memberikan angan-angan yang tidak mungkin terjadi. Orang-orang Yahudi itu berangan-angan bahwa mereka hanya akan masuk neraka untuk beberapa hari saja.
Jangan bersandar kepada angan-angan
Seorang insan jangan sampai dia bersandar kepada angan-angan. Perbuatan ini merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Banyak orang awam yang berbuat maksiat, lalu mereka berangan-angan, “Ah, gampang, nanti saya taubat. Allah Maha Pengampun kok.” Akhirnya mereka tertipu oleh pengampunan Allah. Mereka mengulur-ulur taubat, “Nanti aja, taubatnya kalau sudah tua. Mumpung masih muda.” Akhirnya, dengan angan-angan itu, mereka semakin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagian dari mereka tertipu, katanya yang penting wafat di atas tauhid. Kalau wafat di atas tauhid, selama wafat tidak berbuat syirik, Allah akan mendatangkan ampunan sebesar dosa kita. Bukankah Allah berfirman dalam hadits Qudsi, “Hai anak Adam, kalau kamu datang kepadaKu membawa dosa sepenuh bumi, lalu kamu mati meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku, Aku akan datang kepada kamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi”? Orang ini tertipu. Dia berkata, “Kalau saya mati di atas tauhid, Allah akan datangkan kepada saya ampunan sebesar dosa saya.”
Maka kita katakan, “Akhi, siapa yang menjamin bahwa kamu akan mati di atas tauhid? Siapa yang menjamin bahwa kamu akan mati di atas Laa ilaaha illallah?” Berapa banyak orang yang meremehkan maksiat malah diseret kepada kekufuran, akhirnya ia mati dalam keadaan su’ul khatimah. Bahkan, na’uzubillah, ia mati dalam keadaan kekafiran.
Meremehkan maksiat itu bukan sifat orang yang beriman. Maksiat semakin diremehkan, semakin berat di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Yahudi beriman kepada hari kebangkitan