Radio Rodja 756 AM

Berobat Tidak Menafikan Tawakal


Listen Later

Berobat Tidak Menafikan Tawakal adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 05 Rabi’ul Akhir 1443H / 10 November 2021 M.
Kajian Tentang Berobat Tidak Menafikan Tawakal
Adapun melakukan sebab dan berobat yang tidak ada kemakruhan di dalamnya, maka ini tidak menodai tawakal. Ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah secara marfu’, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ما أنزل اللهُ داءً إلا أنزل له شفاءً علمَهُ من علمه وجهلَه من جهِله
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Allah telah menurunkan untuknya obat. Ada yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahui.” (HR. Bukhari Muslim)
Ini menunjukkan orang yang mengerjakan sebab tidak menafikkan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan jika obat tersebut bermanfaat, maka meninggalkan berobat dalam keadaan seperti ini tercela dan tidak disyaratkan.
Dan juga dalil yang menunjukkan bahwa semestinya seseorang berobat saat sakit (terutama jika ada obat yang diketahui), yaitu hadits dari Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:
كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم وجاءت الأعراب فقالوا يا رسول الله انتداوي؟ فقال: نعم يا عباد الله تداووا فإن الله عز وجل لم يضع داء إلا وضع له شفاء غير داء واحد. قالوا ما هو؟ قال: الهرم
“Aku pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu datang seorang dari kampung Arab pedalaman dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kita boleh berobat?’
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Iya, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah meletakkan penyakit kecuali meletakkan untuknya obat penyembuh, kecuali satu penyakit.’
Kemudian orang Arab itu bertanya: ‘Apa itu?’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Tua.'” (HR. Ahmad)
Hadits ini juga menunjukkan bahwa disyariatkan untuk berobat dan tidak menafikkan tawakal ketika seseorang berobat.
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini mengandung beberapa perkara. Yaitu di antaranya menetapkan adanya sebab dan akibat, membatalkan pendapat yang mengingkari adanya sebab dan akibat, perintah untuk berobat, dan bahwasanya berobat tidak menafikan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tidak tidak menafikkan tawakal menolak lapar dan haus,  dingin dan panas dengan kebaikan-kebalikannya.
Bahkan tidak sempurna hakikat tauhid kecuali dengan mengerjakan sebab secara langsung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tegakkan sebagai konsekuensi dari akibat, baik itu secara kuasa Allah ataupun secara syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahkan meniadakan melakukan sebab mencela tawakal itu sendiri, sebagaimana ia mencela perintah dan hikmah dan bahkan melemahkan tawakal dari sisi dia mengira bahwa tidak mengerjakan tawakal maka lebih kuat dalam tawakal.
Karena orang yang meninggalkan sebab adalah kelemahan dan menafikan tawakal, yang mana hakikat tawakal adalah bersandar hati kepada Allah didalam perkara mendapatkan apa yang bermanfaat untuk seorang hamba pada dunia dan agamanya, dan menahan apa yang membahayakannya dalam perkara dunianya atau agamanya, dan harus bersamaan dengan bersandarnya hati dengan langsung melakukan sebab, kalau tidak mengerjakan sebab maka dia meniadakan hikmah dalam penciptaan Allah dan juga tidak sesuai dengan syariat Islam.
Maka jangan sampai seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai tawakal dan jangan jadikan tawakalnya sebagai kelemahan.”
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings