Bumi Sebagai Alat Bersuci dan Tempat Shalat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 13 Jumadal Ula1445 H / 26 November 2023 M.
Kajian Hadits Tentang Bumi Sebagai Alat Bersuci dan Tempat Shalat
Hadits 257:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ فُضِّلْتُ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku dilebihkan di atas para nabi dengan enam:
* Aku diberikan oleh Allah jawami’ al-kalim (kalimat yang pendek namun maknanya sangat dalam dan luas sekali yang kemudian menjadi kaidah dalam agama).
* Aku ditolong dengan rasa takut -dalam riwayat yang lain: perjalanan sebulan (artinya sebulan sebelum menyerang musuh, musuh sudah ketakutan duluan).
* Dihalalkan untukku ghanimah (harta rampasan perang).
* Dijadikan untukku bumi ini sebagai alat bersuci dan tempat shalat.
* Aku diutus kepada seluruh manusia.
* Aku adalah penutup para nabi.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana beliau diberikan oleh Allah banyak kelebihan di atas para nabi. Namun, dalam hadits ini, Rasulullah menyebutkan enam kelebihan tersebut. Hal ini bukanlah batasan, dan masih ada kelebihan-kelebihan lainnya seperti mukjizat para nabi yang berhenti, sedangkan mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu Al-Qur’an, kekal sampai hari kiamat.
Jawami’ Al-Kalim
Pertama, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan oleh Allah jawami’ al-kalim, yaitu kalimat yang pendek tapi maknanya sangat luas sekali. Contoh, nabi bersabda:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu dengan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihat: Hadits Arbain Ke 1
Subhanallah, kalimat ini pendek sekali, tapi kata Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah, ini masuk dalam 70 bab fikih.
Contoh lain sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
“Tidak boleh melakukan mudarat dan tidak boleh menolak mudarat dengan mudarat.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain.)
Subhanallah, ini menjadi sebuah kaidah yang luar biasa. Semua mudharat wajib ditinggalkan, dan kemudian di situ para ulama menyebutkan kaidah-kaidah cabang dari kaidah tersebut.
Lihat juga: Khutbah Jumat: Tidak Boleh Memberikan Mudharat
Contoh lagi, sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: