Cara Meraih Keikhlasan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 12 Dzulhijjah 1443 H / 12 Juli 2022 M.
Kajian sebelumnya: Koreksi Keikhlasanmu Dalam Mendidik Anak
Cara Meraih Keikhlasan
Niat yang ikhlas akan memudahkan pekerjaan-pekerjaan ataupun amal-amal yang berat. Dengan ikhlas kita dapat melakukan tugas dan kewajiban dengan baik. Disamping itu ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal.
Maka di sini kita akan membahas tentang bagaimana kita bisa meraih keikhlasan hingga kita menjadi orang yang mukhlish.
1. Memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Ikhlas adalah amal hati, maka dari itu kita perlu memohon pertolongan kepada pemilik hati (yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membolak-balikkan hati) agar meluruskan dan meneguhkan hati kita di atas keikhlasan.
Maka salah satu doa yang diajarkan Nabi adalah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agamaMu (termasuk diatas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Tirmidzi)
Kita perlu minta hal ini kepada Allah. Hati kita berbolak-balik. Maka kita memohon kepada yang membolak-balikkan hati agar meneguhkan hati kita diatas keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Mengetahui buah dari keikhlasan dan bahaya niat yang melenceng
Menit ke- Ikhlas akan menghasilkan pahala, akan membuahkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan mendatangkan keridhaan dan kecintaan Allah kepada pelakunya. Sedangkan niat yang melenceng ataupun riya’ akan diancam adzab yang pedih.
Tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat itu berkaitan dengan niatnya yang riya’. Dengan merekalah neraka jahannam akan dinyalakan. Tiga orang itu adalah seorang yang berjihad, menuntut ilmu dan bersedekah. Ternyata mereka melakukan itu bukan karena Allah, tapi karena mengharapkan apresiasi/sebutan di tengah-tengah manusia. Supaya dikatakan pemberani, supaya dikatakan alim, dan supaya dikatakan dermawan. Maka Allah melemparkan mereka ke dalam neraka.
Dengan mengetahui buah keikhlasan dan bahaya dari riya’ mendorong kita untuk bersungguh-sungguh untuk memasang niat yang ikhlas dalam setiap amal yang kita lakukan.
3. Takut terhadap murka Allah
Menit ke- Al-Hasan Al-Bashri mengatakan:
ما خافه إلا مؤمن، ولا أمِنه إلا منافق
“Tidak ada yang takut kepada Allah kecuali seorang mukmin, dan tidak ada yang merasa aman dariNya (dari siksa dan makar Allah) kecuali seorang munafik.”
Maka takut terhadap Allah ini adalah sesuatu yang kita harus pelihara di dalam hati. Hendaknya kita menyadari bahwa mengejar pujian Allah itu jauh lebih utama daripada mengejar pujian manusia. Sebagaimana lari dan menghindar dari celaan Allah jauh lebih utama daripada lari dan menghindar dari celaan manusia.
Pujian dan celaan manusia hanya bersifat sementara dan belum tentu benar. Sedangkan orang yang dicela Allah pasti tercela. Sebaliknya, orang yang mendapatkan pujian dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia pasti meraih keutamaan dan kemuliaan itu.
Maka seorang mukmin akan berusaha untuk mempersembahkan amal terbaik yang dia lakukan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara hatinya selalu dipenuhi rasa takut dan kekhawatir amalnya itu tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini harus senantiasa kita jaga di dalam beramal supaya...