Celetuk Bahasa Tempo

Celetuk Bahasa Tempo

By Podcast Tempo MediaEducation
Download on the App Store

Celetuk Bahasa Tempo episodes

  • Mencermati Kelas Kata

    Mencermati kelas kata—khususnya kata benda, kata kerja, dan kata sifat—bisa membantu kita menyusun kalimat yang logis. “Gubernur sedang emosi” dan “Korban masih trauma” adalah contoh kalimat yang keliru mengidentifikasi kelas kata.

    - - -

    **Kunjungi s.id/tempo99 untuk berlangganan Tempo Digital Premium hanya Rp 99 ribu setahun!

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co

    11 min
  • Suara dan Bunyi

    Suara dan bunyi adalah dua kata yang bersinonim. Namun, dalam konteks tertentu, keduanya tak bisa dipertukarkan. “Suara penyanyi” tak bisa diganti menjadi “bunyi penyanyi”. Sedangkan “bunyi-bunyian” tak dapat diganti dengan “suara-suaraan”.

    ---

    **Kunjungi s.id/tempo99 untuk langganan Tempo Digital Premium hanya Rp 99 ribu setahun!

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.


    6 min
  • Bintang Film, Artis, Selebritas

    Ada masanya istilah “bintang film” lazim digunakan--bintang film Hong Kong, bintang film India, bintang film Barat, dan sebagainya. Kini “bintang film” jarang digunakan. Istilah yang sering dipakai adalah “artis” dan “selebritas”, juga “idol”. Orang yang tidak bermain film atau sinetron pun bisa disebut “artis” atau “selebritas”.

    ---

    **Kunjungi s.id/tempo99 untuk langganan Tempo Digital Premium hanya Rp 99 ribu selama 12 bulan!

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Zen Hae berjudul “Artis dari Hong Kong” di majalah Tempo edisi 13 Februari 2017.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    7 min
  • Obral Singkatan

    Orang Indonesia, terutama pemerintah, sangat gemar memproduksi singkatan. Dari nama kegiatan, nama organisasi, hingga nama kementerian punya singkatan. Saking banyaknya, tak jarang kita temukan singkatan kembar—satu singkatan memiliki banyak kepanjangan. Misalnya KKN (kuliah kerja nyata; korupsi, kolusi, dan nepotisme), TPS (tempat pemungutan suara; tempat pembuangan sampah), dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa; pajak bumi dan bangunan; Partai Bulan Bintang).

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    8 min
  • Media Sosial Racun Bahasa Indonesia?

    Coba tengok penggunaan bahasa Indonesia di media sosial. Kita bisa dengan mudah menemukan kata nonbaku, termasuk banjirnya istilah gaul, serta susunan kalimat yang serampangan. Apakah hadir dan berkembangnya media sosial menjadi racun bagi bahasa Indonesia?

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    7 min
  • Memaafkan dan Melupakan

    “Masyarakat Indonesia mungkin akan memaafkan kesalahan Pak Harto, tapi tidak melupakannya.”

    Memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Namun melupakan sebenarnya secara diam-diam memaafkan. Memaafkan dan melupakan bertemu sebagai tindakan yang sama-sama mengajari kita menjadi penipu—membohongi diri sendiri, mengingkari sejarah, dan yang paling parah: tak bermoral.

    ---

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Putu Wijaya berjudul “Misteri Maaf dan Lupa” di majalah Tempo edisi 24 Februari 2008.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    7 min
  • Menuntut “dari” atau “kepada”?

    Kata depan “dari” dan “kepada” memiliki fungsi yang berbeda. Namun kita bisa menjumpai kalimat semacam ini: “Mereka menuntut pertanggungjawaban dari kementerian” dan “Mereka menuntut pertanggungjawaban kepada kementerian”. Lantas kalimat mana yang tepat?

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    7 min
  • Pelafalan Kata Harus Sesuai dengan KBBI?

    Apotik (apotek), trek (truk), dan bis (bus) adalah contoh pelafalan kata yang lazim kita dengar, bahkan kita gunakan, dalam percakapan sehari-hari. Banyak orang yang mungkin sudah tahu bahwa pelafalan kata itu tidak sesuai dengan penulisannya di KBBI, tapi masih sering melakukannya.

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    7 min
  • Nama yang Islami

    Seperti apakah nama islami dan bagaimana nama Indonesia? Penduduk Indonesia amat kreatif dalam memberikan nama untuk anak-anaknya. Tak ada rumusan baku yang berlaku. Di sini, nama “Umar” yang dianggap islami justru dipakai penganut Kristen di Timur Tengah. Lalu, banyak orang bernama “Wisnu” yang beragama Islam. Ada pula yang memakai gelar bangsawan Turki, “Efendi”, sebagai nama. Dan ada nama yang jadi nama belakang di negara lain malah jadi nama depan di Indonesia.

    ---

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Qaris Tajudin berjudul “Arti Sebuah Nama” di majalah Tempo edisi 9 April 2017.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    **Saran dan kritik: [email protected] atau IG podcast.tempo

    8 min
  • Kata Keliru yang Lazim

    Sampai saat ini, masih banyak yang keliru menggunakan kata seperti “acuh”, “absen”, “nuansa”, dan “bergeming”. Kekeliruan itu terus berulang menjadi kelaziman hingga dianggap benar. Apa yang bisa kita lakukan agar salah kaprah tersebut tidak berlanjut?

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    7 min

About Celetuk Bahasa Tempo

From the publisher's feed

Celetuk Bahasa Tempo bersama Uu Suhardi adalah siniar mingguan yang membahas apa pun seputar bahasa Indonesia. Siniar atau podcast ini akan membawa kamu untuk merenungi kembali, “Apakah kita benar-benar sudah memahami bahasa Indonesia?”