
Sign up to save your podcasts
Or


Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
[Bacaan Injil : Lukas 14 : 25 - 33
Hari Minggu Biasa ke-23 (8 September 2019)]
Hari ini kita mendengarkan salah satu pernyataan Yesus yang cukup keras. Jika kita ingin mengikuti Yesus, kita perlu membenci ayah, ibu, saudara kita, dan bahkan hidup kita sendiri dan jika tidak, kita tidak layak bagi-Nya [Luk 14:25]. Dalam hal ini, kita perlu memahami konteks perkataan Yesus yang lebih luas. Yesus sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem dan Dia tahu apa yang menanti-Nya di kota ini yaitu penyaliban dan kematian. Ada banyak orang yang mengikuti Yesus karena Dia adalah public figure yang populer. Orang berbondong-bondong mengikuti Yesus karena ada yang ingin disembuhkan, melihat mukjizat Yesus, dan mendengarkan ajaran-Nya yang penuh kuasa. Ini adalah mentalitas kerumunan dalam mengikuti sesuatu atau seseorang karena kepentingan pribadi atau rasa egois. Ini menggambarkan bukan murid-murid Yesus yang sejati. Yesus memahami hal ini dengan baik dan Dia perlu menegur bagi mereka yang tidak mengikuti Yesus dengan serius. Dia membuat mereka memutuskan apakah akan tetap sebagai kerumunan atau menjadi murid, untuk pergi atau berjalan di jalan salib-Nya. Namun, keputusan semacam ini hanya mungkin terjadi ketika kita tidak terikat pada hal-hal dan orang yang kita sayangi. Kita tidak dapat memikul salib kita kecuali kita siap untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya. Yesus mengingatkan kepada orang-orang bahwa kecuali mereka mencintai Yesus diatas segalanya, kita tidak layak menjadi pengikut-Nya. Ini memiliki implikasi yang luar biasa dalam kehidupan kita. Kita perlu mencintai keluarga, tetapi kita harus mengasihi Yesus terlebih dahulu, dengan kata lain kita harus mengasihi orang tua kita didalam Yesus. Dalam pernikahan pasangan harus saling mencinta dan pernikahan ini merupakan kontrak sosial. Ada hal yang lebih baik jika pasangan suami istri mencintai Yesus terlebih sehingga tugas suami adalah untuk memimpin istrinya agar mengasihi Yesus dan istri mengikuti Yesus bersama suaminya. Ini merupakan tugas utama orang tua untuk mengajar anak-anaknya agar mengasihi Allah dan hukum-hukum-Nya. Yesus mencintai ibu-Nya yaitu Maria dan menghormati ayah angkat-Nya yaitu Yusuf, tetapi jelas bagi Yesus bahwa kasih-Nya bagi mereka berakar dan diarahkan kepada Bapa-Nya di surga. Maka, kita harus menjadi murid Yesus sejati yang mau membenci hidup kita sendiri dan segala hal lainnya demi Yesus.
By Aquinas CenterRomo Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
[Bacaan Injil : Lukas 14 : 25 - 33
Hari Minggu Biasa ke-23 (8 September 2019)]
Hari ini kita mendengarkan salah satu pernyataan Yesus yang cukup keras. Jika kita ingin mengikuti Yesus, kita perlu membenci ayah, ibu, saudara kita, dan bahkan hidup kita sendiri dan jika tidak, kita tidak layak bagi-Nya [Luk 14:25]. Dalam hal ini, kita perlu memahami konteks perkataan Yesus yang lebih luas. Yesus sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem dan Dia tahu apa yang menanti-Nya di kota ini yaitu penyaliban dan kematian. Ada banyak orang yang mengikuti Yesus karena Dia adalah public figure yang populer. Orang berbondong-bondong mengikuti Yesus karena ada yang ingin disembuhkan, melihat mukjizat Yesus, dan mendengarkan ajaran-Nya yang penuh kuasa. Ini adalah mentalitas kerumunan dalam mengikuti sesuatu atau seseorang karena kepentingan pribadi atau rasa egois. Ini menggambarkan bukan murid-murid Yesus yang sejati. Yesus memahami hal ini dengan baik dan Dia perlu menegur bagi mereka yang tidak mengikuti Yesus dengan serius. Dia membuat mereka memutuskan apakah akan tetap sebagai kerumunan atau menjadi murid, untuk pergi atau berjalan di jalan salib-Nya. Namun, keputusan semacam ini hanya mungkin terjadi ketika kita tidak terikat pada hal-hal dan orang yang kita sayangi. Kita tidak dapat memikul salib kita kecuali kita siap untuk menyerahkan hidup kita sepenuhnya. Yesus mengingatkan kepada orang-orang bahwa kecuali mereka mencintai Yesus diatas segalanya, kita tidak layak menjadi pengikut-Nya. Ini memiliki implikasi yang luar biasa dalam kehidupan kita. Kita perlu mencintai keluarga, tetapi kita harus mengasihi Yesus terlebih dahulu, dengan kata lain kita harus mengasihi orang tua kita didalam Yesus. Dalam pernikahan pasangan harus saling mencinta dan pernikahan ini merupakan kontrak sosial. Ada hal yang lebih baik jika pasangan suami istri mencintai Yesus terlebih sehingga tugas suami adalah untuk memimpin istrinya agar mengasihi Yesus dan istri mengikuti Yesus bersama suaminya. Ini merupakan tugas utama orang tua untuk mengajar anak-anaknya agar mengasihi Allah dan hukum-hukum-Nya. Yesus mencintai ibu-Nya yaitu Maria dan menghormati ayah angkat-Nya yaitu Yusuf, tetapi jelas bagi Yesus bahwa kasih-Nya bagi mereka berakar dan diarahkan kepada Bapa-Nya di surga. Maka, kita harus menjadi murid Yesus sejati yang mau membenci hidup kita sendiri dan segala hal lainnya demi Yesus.