
Sign up to save your podcasts
Or


Kadang kita duduk termenung di tepi kehidupan, bertanya dalam hati, "Mengapa hidupku begini? Apakah ini nasibku? Apakah takdirku sudah ditulis dan tak bisa diubah?" Saat badai datang bertubi-tubi, saat doa terasa menggantung di langit yang bisu, kita tergoda untuk menyerah pada pemikiran bahwa mungkin semua sudah ditentukan dan tidak ada jalan lain, tidak ada harapan baru. Namun, mari kita diam sejenak dan menoleh pada salib di Kalvari. Di sana tergantung Dia yang tidak bersalah, yang bisa saja memilih untuk tidak menderita, tapi justru memilih jalan salib. Bukan karena takdir menuntut-Nya, melainkan karena kasih-Nya menaklukkan semua. Di sana kita belajar bahwa kehendak Allah bukan paksaan yang dingin, tetapi undangan yang lembut.
By Breath & BreadKadang kita duduk termenung di tepi kehidupan, bertanya dalam hati, "Mengapa hidupku begini? Apakah ini nasibku? Apakah takdirku sudah ditulis dan tak bisa diubah?" Saat badai datang bertubi-tubi, saat doa terasa menggantung di langit yang bisu, kita tergoda untuk menyerah pada pemikiran bahwa mungkin semua sudah ditentukan dan tidak ada jalan lain, tidak ada harapan baru. Namun, mari kita diam sejenak dan menoleh pada salib di Kalvari. Di sana tergantung Dia yang tidak bersalah, yang bisa saja memilih untuk tidak menderita, tapi justru memilih jalan salib. Bukan karena takdir menuntut-Nya, melainkan karena kasih-Nya menaklukkan semua. Di sana kita belajar bahwa kehendak Allah bukan paksaan yang dingin, tetapi undangan yang lembut.