Dosa Besar yang Dianggap Ringan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah tematik oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. Hafidzahullah pada Senin, 28 Syawal 1445 H / 07 Mei 2024 M.
Kajian Tentang Dosa Besar yang Dianggap Ringan
Pernahkah kita berpikir bagaimana kalau orang yang benar-benar taat kepada Allah? Bagaimana sayang Allah kepadanya? Apa yang akan Allah berikan kepadanya dan bagaimana Allah akan memperlakukan dirinya? Kalau kepada musuh-musuhNya yang memerangi Dia, memerangi rasulNya, memerangi kitabNya, memerangi orang-orang yang beriman kepadaNya begitu Dia perlakukan, bagaimana Ia akan memberikan sesuatu kepada negara yang di dalamnya hidup wali-waliNya?
Namun, dimana negara-negara yang sekarang penghuninya adalah wali-wali Allah? Maksiat telah merajalela di mana-mana. Kesalahan kepada Allah, kesalahan menjalani syariat Allah, kesalahan dalam bermuamalah telah masuk ke dalam hampir seluruh jaringan kehidupan. Sampai manusia sekarang ini membawa maksiat ke kamar mandi. Kalau kamar mandi, areal yang biasanya paling steril dari aneka ragam kegiatan kecuali hanya satu-satunya kegiatan itu saja, sudah tak lagi lepas dari tempat maksiat. Ke mana kita akan mencari tempat yang lepas dari maksiat?
Kamar yang dahulunya tempat istirahat sekarang tempat maksiat. Dahulunya tempat tidur tempat rehat sekarang teater dengan aneka ragam film barat. Rumah yang dahulunya tempat bercengkerama ayah dan ibu, anak dan menantu sekarang tak lagi menjadi tempat bercengkerama, hanya tempat bertatap muka walau sesaat. Setelah itu, masing-masing sibuk dengan maksiatnya. Jangan katakan kepada saya, “Ustadz terlalu berlebihan,” saya mengatakan itu yang saya lihat dan itu yang saya katakan, dan Allah menjadi saksi bahwa itu terjadi.
Saudaraku, saudariku, kalau ini kelakuan umat Islam, apa yang bisa kita bayangkan kepada mereka yang tidak beriman kepada Allah dan rasulNya? Satu rumah hidup suami istri yang di agama mereka haram bercerai karena -menurut mereka- apa yang Tuhan satukan, hanya Tuhan yang boleh memisahkan. Akhirnya, sang istri membawa teman lelakinya dan suami membawa teman wanitanya. Sang istri memperkenalkan kepada suaminya, “Ini boyfriend,” dan si suami memperkenalkan kepada istri, “Ini girlfriend.” Dan mereka bisa hidup biasa-biasa saja. Wallahi, kehancuran moral tak terhingga kalau sudah tidak beriman kepada Allah dan rasulNya.
Kalau hanya tahu dunia dan syahwat dunia, inilah kehidupan yang lebih dahsyat daripada binatang. Dianggap hak asasi manusia, asal tidak mengganggu yang lainnya dan saling ridha, semua aman?
Saya tidak ingin berbicara tentang negara-negara penuh maksiat karena tidak beriman kepada Allah. Biarkan mereka. Saya ingin berbicara tentang negara umat Islam, Indonesia tercinta, yang kita salah seorang di antaranya dan warga negaranya, yang harus punya cinta kepadanya dan berjuang untuk kebaikannya. Sebagaimana pahlawan-pahlawan kita dahulu berjuang untuk kebaikan negaranya, bangsa dan tanah airnya, tempat lahirnya, tempat besar dan dewasanya. Dari buminya mereka makan, di buminya mereka tidur, di buminya mereka mencari nafkah. Kita harus berusaha untuk memperbaiki negara kita sendiri.
Apabila kita melihat potret kehidupan umat Islam di negeri yang kita cintai ini bernama Indonesia, ada hal yang aneh namun tak terasa aneh, karena mereka tak mencari yang aneh-aneh. Namun bagi mereka yang mencari yang aneh, maka keanehan itu terlihat nyata. Yang aneh itu apa? Kita umat Islam terbesar, tapi terkalah. Kita umat Islam terbanyak,