Hak Pemimpin Yang Wajib Ditunaikan Oleh Rakyatnya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 26 Rajab Akhir 1443 H / 28 Februari 2022 M.
Kajian sebelumnya: Yang Baik Tidak Sama Dengan Yang Buruk
Ceramah Agama Islam Tentang Hak Pemimpin Yang Wajib Ditunaikan Oleh Rakyatnya
Pada pertemuan yang lalu kita membahas hak-hak rakyat yang wajib ditunaikan oleh pemimpinnya, yaitu:
* Seorang pemimpin harus adil, tidak boleh dzalim.
* Hendaknya pemimpin selalu bersungguh-sungguh bekerja untuk rakyatnya dan menasehati mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala agar masuk surga bersama mereka.
* Tidak boleh menipu rakyatnya, karena orang yang menipu rakyatnya diharamkan masuk surga.
* Hendaknya berlemah-lembut/menyayangi rakyatnya dan tidak menyusahkan rakyatnya.
Ini merupakan hak rakyat atas pemimpinnya pemimpinnya. Pemimpin yang menyusahkan rakyatnya maka akan disusahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan doa keburukan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata bahwa orang yang menyusahkan rakyatnya maka susahkanlah mereka.
Kemudian juga harus diingat bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak.
Hak Pemimpin
Sebagai rakyat, harus mengetahui hak pemimpinnya. Tentunya hak pemimpin adalah harus ditaati. Ini merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam surah An-Nisa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ…
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul serta ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa[4]: 59)
Di antara makna ulil amri adalah pemimpin. Maka ini merupakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi ketaatan kepada pemimpin diikat dengan selama mereka tidak memerintahkan berbuat maksiat. Apabila mereka memerintahkan berbuat maksiat, maka tidak ada ketaatan. Tetapi tidak ada ketaatan dalam hal tersebut, tidak secara keseluruhan.
Ketika pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak taat dalam hal itu. Adapun dalam hal yang lainnya maka wajib taat.
Jangan sampai karena memerintahkan berbuat tidak baik, kemudian dikatakan bahwa tidak ada ketaatan sama sekali kepada pemimpin. Kemudian memberontak dan seterusnya. Tentu ini tidak adil juga bagi rakyat, tidak benar dan tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
خِيارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ ويُحِبُّونَكُمْ، وتُصَلُّونَ عليهم ويُصَلُّونَ علَيْكُم، وشِرارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ويُبْغِضُونَكُمْ، وتَلْعَنُونَهُمْ ويَلْعَنُونَكُمْ، قالوا: قُلْنا: يا رَسولَ اللهِ، أفَلا نُنابِذُهُمْ عِنْدَ ذلكَ؟ قالَ: لا، ما أقامُوا فِيكُمُ الصَّلاةَ، لا، ما أقامُوا فِيكُمُ الصَّلاةَ، ألا مَن ولِيَ عليه والٍ، فَرَآهُ يَأْتي شيئًا مِن مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ ما يَأْتي مِن مَعْصِيَةِ اللهِ، ولا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِن طاعَةٍ.
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Dan kalian bershalawat (mendoakan kebaiakan) atas mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan pemimpin yang paling buruk di antara kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian.