Radio Rodja 756 AM

Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja


Listen Later


Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Senin , 5 Rajab 1445 H / 16 Januari 2024 M.







Kajian Tentang Hal-Hal Yang Merusak Dialog dengan Remaja



Ada hal-hal yang harus kita hindari ketika berdialog, karena ini bisa mengganggu atau bahkan merusak suasana dialog dengan anak-anak remaja. Di antaranya adalah:



Yang pertama, berbicara dengan gaya bahasa yang terkesan menggurui dan ingin terus menceramahi. Memang tujuan kita adalah memberi nasihat, ceramah, atau peringatan kepada anak. Kita adalah guru dan mentornya. Namun, gaya bahasa yang harus kita perhatikan. Karena menceramahi tidak harus dengan gaya bahasa ceramah. Menggurui tidak harus dengan kata-kata yang terkesan menggurui. Memberikan pelajaran tidak harus dengan cara seperti itu.



Hindari gaya bahasa yang terkesan ingin menceramahi dan menggurui, seolah-olah dia tidak tahu apa-apa, sedangkan kita yang maha tahu segalanya. Ini yang kadang-kadang membuat lawan dialog kita cenderung mengabaikan.



Maka, pilihlah kata-kata yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangannya. Kita mengajak dia untuk berpikir ikut terlibat dalam dialog tersebut. Gaya bahasa yang menggurui itu cenderung monolog. Sehingga kita yang terus mengambil alih pembicaraan itu, seperti orang ceramah, dan tidak ada peluang bagi mereka untuk mencerna apa yang kita sampaikan.



Maka kadang-kadang diselingi dengan kalimat-kalimat yang bernada pertanyaan untuk memancing perhatiannya. Jadi tidak monoton dan membosankan seperti kita mendengarkan ceramah.



Makanya nabi, beliau adalah guru yang terbaik. Kadang kala beliau melontarkan pertanyaan untuk menarik perhatian dari pendengar. Nabi sering menggunakan metode itu, yaitu dengan melontarkan pertanyaan, supaya yang mendengar juga ikut terlibat di dalam pembicaraan. Tidak cenderung satu arah seperti orang menggurui itu.



Kadangkala beliau memancing sahabat dengan pertanyaan: “Tahukah kalian hari apa ini?” atau “Di mana ini?” Beliau tahu sedang di tanah haram dan di bulan haram. Tapi nabi bertanya, sehinga mereka mengira jawabannya yang lain. Ternyata nabi ingin menjelaskan tentang haramnya kehormatan muslim.



Yang kedua, hindari redaksi perkataan yang cenderung menyudutkan dan menyalahkan. Ini adalah tindakan yang seolah-olah kita berdiri di hadapannya sebagai hakim dan dia sebagai terdakwa di ruang persidangan. Ini akan mematikan kemampuan berpikirnya.



Orang yang duduk di kursi terdakwah itu tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali membela diri. Maka kalau kita memposisikan diri sebagai hakim, maka yang dilakukan oleh si anak adalah membela diri dengan apapun. Bahkan terkadang dengan berbohong.



Ini dialami oleh banyak anak. Ketika orang tuanya berdiri di depannya sebagai hakim, maka dia cenderung ingin menghindar dan mencari celah bagaimana untuk mengakhiri pembicaraan. Kita ingin memperbaiki, bukan menghakimi. Kita ingin memberikan kebaikan, bukan menjatuhkan vonis hukum.



Yang ketiga, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak dan berkali-kali. Yang pertanyaan itu terkadang sudah dijawabnya tapi ditanya lagi. Seolah-olah orang tua tidak percaya kepada jawabannya. Ini seperti orang tua yang kekurangan bahan dalam berdialog dengan anak-anaknya. Anak akan merasa seperti duduk di depan investigat...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings