Radio Rodja 756 AM

Hindarilah Mencela Anak


Listen Later

Hindarilah Mencela Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Safar 1445 H / 21 Agustus 2023 M.

Kajian Tentang Hindarilah Mencela Anak
Ketika marah, apalagi emosinya memuncak, kadang-kadang kita tidak bisa mengontrol kata-kata. Akibatnya ucapan yang keluar itu adalah ucapan yang kasar. Bahkan kita merasa semakin kasar semakin puas. Hal ini gara-gara terpancing emosi. Padahal sadarkah kita, bahwa kata-kata yang kasar itu bisa melukai perasaan anak. Dan ketika perasaan anak terluka, bisa jadi itu akan terus teringat, bahkan sampai anak kita nanti tua dan menjadi orang tua.
Melupakan kata-kata kasar itu kemungkinan lebih susah daripada melupakan hukuman fisik. Misalnya dulu sama orang tua, mungkin kita pernah dicubit atau dijewer, atau bahkan mungkin dipukul. Dari sekian cubitan dan pukulan yang kita alami, mungkin tidak banyak yang kita ingat. Tapi kata-kata kasar yang menyakitkan itu bisa teringat bertahun-tahun, bahkan mungkin sampai kita mati tidak terlupakan. Itulah efek mengerikan dari kata-kata kasar dan cacian.
Sebagian orang tua biasa mengatakan anaknya nakal, bahkan –maaf– mengatakan anaknya goblok, bodoh, dan kata-kata kasar lainnya. Karena itu sering terucap, dalam sehari bisa berkali-kali. Sehingga dalam setahun, kata-kata kasar tadi didengar oleh anak ratusan kali. Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah terpatri di bawah sadar anak bahwa dia memang nakal, bodoh, dan seperti kata-kata kasar yang diucapkan oleh orang tuanya, dan yang lebih mengerikan bisa jadi kata-kata kasar dan cacian itu menjadi doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perkembangan perilaku anak yang tidak ideal tadi ternyata adalah akibat dari perilaku orang tuanya. Maka, apabila kita bermaksud bersikap keras kepada anak, jaga dan kendalikan lisan. Jangan sampai saat kita terpancing emosi itu mengeluarkan kata-kata kasar dan cacian yang akhirnya di kemudian hari kita akan menyesal.
Mari kita lihat suri tauladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah orang yang paling lembut dan beliau menghindari cacian, celaan, makian, dan kata-kata kasar kepada anak-anak yang beliau didik.
Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan pengalamannya saat masih kecil:
“خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟”
“Aku telah menjadi pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan padaku, “Hus!”. Juga tidak pernah berkata padaku, “Mengapa kau kerjakan ini? Seharusnya kamu lakukan itu!”. (HR. Bukhari no. 6038 dan Muslim no. 2309).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mencela Anas atas sesuatu yang terlanjur tidak dikerjakan. Sebab masih ada kesempatan untuk dilakukan, jika memang diperlukan. Sehingga lisan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa terjaga dari kata-kata kasar dan bentakan. Selain itu perasaan dan psikis Anas juga terjaga. Tentunya hal ini berlaku pada urusan dan kepentingan pribadi. Adapun bila terkait kewajiban agama, maka harus dilakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Itupun perlu dilakukan secara bijaksana.
Apakah Tidak Kontraproduktif?
Mungkin akan ada yang berkomentar, “Jika kita selalu bersikap lemah lembut dan banyak toleran, nanti anak bakal semakin berani melakukan pelanggaran. Khawatirnya malah kita tidak bisa mengarahkannya!”.
Jawabannya: “Mengapa hal yang dikhawatirkan tersebut tidak terjadi...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings