Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 28 Rabi’ul Awal 1443 H / 04 November 2021 M.
Kajian sebelumnya: Harta Menjadikan Hamba Membenci Perjumpaan dengan Allah
Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh
Segi-segi kemuliaan ilmu dibandingkan harta:
Tiga puluh delapan, kedudukan ilmu pada ruh manusia adalah seperti kedudukan ruh pada badan. Yakni kalau ruh itu adalah kehidupan bagi badan manusia, maka ilmu adalah kehidupan bagi ruh manusia.
Maka jiwa/ruh manusia adalah bangkai yang hidupnya adalah dengan ilmu. Sebagaimana tubuh manusia adalah bangkai yang hidupnya dengan ruhnya. Sehingga fungsi ilmu adalah menghidupkan hati/jiwa/ruh pada diri manusia.
Sedangkan orang yang kaya dengan harta, perkara maksimal yang bisa dicapainya adalah menambah kehidupan bagi tubuhnya. Subhanallah ini jelas perbedaan yang sangat jauh sekali.
Orang-orang yang tidak punya ilmu agama disebutkan di dalam Al-Qur’an:
أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ…
“Mereka adalah orang-orang yang mati dan tidak hidup sama sekali…” (QS. An-Nahl[16]: 21)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ…
“Wahai Rasulullah, kamu tidak bisa memperdengarkan kebenaran terhadap orang-orang yang sudah mati…” (QS. Ar-Rum[30]: 52)
Maksudnya di sini adalah orang-orang yang mati hatinya. Makanya kedudukan ilmu pada ruh manusia adalah seperti kedudukan ruh pada badan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan petunjuk yang diturunkanNya kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ruh. Maksudnya ini ruh bagi jiwa.
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا…
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu (wahai Rasulullah) ruh dari perintah Kami…” (QS. Asy-Syura[42]: 52)
Agama ini adalah ruh bagi jiwa manusia. Artinya jiwa manusia akan kering dan mati ketika tidak disirami dengan wahyu dari petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Oleh karena itu seorang penyair Arab mengatakan:
وَفي الجَهلِ قَبلَ المَوتِ مَوتٌ لِأَهلِهِ · وَأَجسادُهُم قَبلَ القُبورِ قُبورُ
“Kejahilan terhadap ilmu sebelum orangnya mati, telah terlebih dahulu mematikan jiwanya. Dan tubuh-tubuh mereka telah menjadi kubur sebelum tubuhnya sendiri masuk ke dalam kuburan.”
Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang selalu berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tiga puluh sembilan, kedudukan hati manusia seperti raja bagi anggota badan, sedangkan ilmu adalah perhiasan yang menghiasi raja, perlengkapan yang menjadikan penampilan raja itu semakin indah.
Ini adalah penjelasan yang diterangkan oleh para ulama sehubungan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim tentang kedudukan hati pada anggota badan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: