Sabda yang Hidup

Injil Lukas - Bab 12


Listen Later

"Tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui", kalimat ini diucapkan Yesus di hadapan ribuan orang dan ditunjukkan terutama pada murid-muridnya. Kalimat di atas bisa diartikan dalam cara lain. Bagian ini Yesus mendorong pada pengakuan iman. Kita harus bicara tentang kebenaran tanpa khawatir apa yang orang pikirkan tentang kita. Di sini kemunafikan mengacu pada siapa saja yang sibuk berdiplomasi dan perhatian pertamanya untuk tidak kehilangan teman atau pengikut. Pelajaran kedua yang diberitakan Yesus adalah tentang ketamakan yang merasuk di dalam hati. Saat Ia diminta menjadi hakim bagi perkara pembagian harta, Ia tak menyelesaikan persengketaan tersebut. Oleh karna perbedaan legal antar saudara adalah masalah hukum yang memutuskan urusan sipil dan pertanyaan relijius. Yesus mengesampingkan otoritas yang Dia miliki untuk hal yang lebih esensial: mengalahkan kerakusan yang mendarah daging dalam setiap hati manusia. Hal ini jauh lebih penting daripada melihat hak setiap orang dengan kaca pembesar. Memperjuangkan keadilan adalah penting, karena tanpanya tak akan ada kedamaian ataupun komunitas. Di lain sisi, melihat kelimpahan orang lain dengan keinginan untuk berbagi ketamakan adalah hal yang berbeda. Saat ini, kita mengangung-agungkan keadilan, tapi esok kita mungkin hanya mencari "kebutuhan" yang berlebih-lebihan. Ketamakan semacam ini tak akan pernah berhenti memuaskan hati manusia. Terlebih lagi, hal ini akan menutup pintu kerajaan surga. Harta kekayaan tidak memberikan kehidupan. Keterbatasan yang kita miliki tidak seharusnya menjadi alasan untuk memberikan yang terbaik kepada kehidupan kita saat ini. Tantangan terbesar manusia  yang mencegahnya untuk meraih kebebasan adalah kerakusannya sendiri. Saat kita sudah menentukan momen untuk berpartisipasi aktif dengan kesungguhan untuk tak menyerah kepada keinginan diri untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok, disitulah kita mulai hidup sebagai manusia. Ayat 21 mengatakan tentang orang yang berkenan di hadapan Allah adalah orang yang kaya dihadapanNya. Artinya adalah orang yang bisa menemukan kebahagiaan pada saat ini, di manapun berada untuk menciptakan hubungan sosial yang saling memberi kepada yang lain dan menerima dari padanya, bukannya menginginkan dan mendapatkan segala sesuatu dengan pemikiran akan keuntungan dirinya sendiri.
Yesus mengingatkan untuk tidak perlu kuatir tentang hidupmu (ayat 22). Melihat burung-burung yang tak pernah menanam dan menuai namun selalu diberi makan oleh sang pencipta. Apalagi hidup manusia yang jauh lebih berharga dari burung itu. Kekuatiran akan menyusahkan pikiran dan mempengaruhi setiap sel tubuh manusia. Terlebih lagi dengan kuatir, manusia tak punya kuasa menambahkan sejengkal saja masa hidupnya. Lalu, untuk apa kuatir? Satu pelajaran yang terdengar mudah namun perlu latihan teratur setiap hari untuk mengandalkan Allah dalam hidup ini. Bab selanjutnya mengajarkan tentang Gereja yang miskin seperti Yesus. Kumpulan orang percaya kepada Yesus memang sedikit jumlahnya. Saat ini, masyarakat yang tak percaya Kristus jumlahnya semakin banyak dan pengaruh duniawi dirasakan dalam segala hal antar bangsa. Saat banyak bagian belahan dunia yang tak lagi menjadi orang percaya kepada Kristus atau meninggalkan kehidupan Kristianinya, kita menjadi paham bahwa Gereja adalah sungguh sebuah tanda sekaligus kumpulan kawanan yang kecil (32). Yesus bersabda untuk tidak menjadi takut karena Bapa berkenan memberikan Kerajaan itu kepada kawanan yang kecil ini. 
Bab ini diakhiri dengan peringatan bahwa Yesus sebagai pemimpin kawanan akan melalui penderitaan. Sebagai pemimpin, menjadi yang pertama untuk mati dikorbankan demi meraih kebangkitan dan persatuan manusia dengan Allah. Penderitaan ini menyakitkan bagiNya dan bagi pengikutnya. Inilah baptisan api (50). Baptisan air dan roh adalah awal, yang nantinya akan disusul dengan baptisan api.
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Sabda yang HidupBy wee twig