Sabda yang Hidup

Injil Lukas - Bab 15


Listen Later

Bab 15 menggambarkan kembali bagaimana seringnya Yesus dikritik karena bergaul dengan "para pendosa". Yesus menunjukkan jati diri Allah yang berusaha meraih dan mencari orang-orang tersingkir, pendosa seperti kita. Kerahiman Allah tak akan luntur karena kelamnya dosa manusia dan bahkan dengan inisiatif dari Allah, Ia mencari orang-orang yang merasa tak pantas pulang kembali ke rumah Bapa. Domba yang hilang adalah kita semua dan kasihNya jauh lebih besar daripada gelapnya dosa manusia. Ia tak membuang manusia berdosa namun mengundangnya untuk kembali pulang pada kasiNya yang aman penuh perlindungan. Di lain sisi, ada manusia yang merasa hidupnya sudah baik-baik saja dan cukup "suci" hingga berpikir ia tak membutuhkan pengampunan dari Allah. Dalam kehidupan modern, Gereja ditantang untuk menjadi berani meninggalkan kenyamanan, meraih ke-99 domba yang hilang, dan berani dikritik seperti Yesus. 

Pelajaran kedua di bab ini adalah tentang perumpamaan anak yang hilang. Ada tiga tokoh utama dalam kisah ini. Tokoh pertama adalah Bapa, yang melambangkan Tuhan; kedua adalah anak sulung, yang melambangkan orang Farisi; dan ketiga adalah anak bungsu yang melambangkan orang berdosa atau manusia pada umumnya. Manusia menginginkan kebebasan dan berpikir bahwa selama ini Tuhanlah yang membatasi kebebasan hidupnya. Mulailah ia meninggalkan Tuhan yang kasihNya tak ia pahami dan kehadirannya tak manusia rasakan, bahkan dianggapnya menjadi beban. Manusia memilih meninggalkan semua identitasnya sebagai anak Tuhan. Saat ia tanggalkan semua pengajaran Bapanya yang tak bisa ia hargai, manusia menjadi budak sesamanya atau budak nafsunya sendiri. Dan dimulailah kisah penderitaaan manusia akibat kelakuannya bahkan sampai tindakan yang memalukan (memakan makanan babi yang najis bagi bangsa Yahudi). 

Dalam perjalan hidup, akhirnya manusia sadar bahwa hidup dalam kasih Bapanya jauh melebihi segalanya. Ia juga belajar bahwa Bapa bukanlah sosok yang selama ini ia pahami. Sang Bapa tak sekalipun menyalahkan, menolak, atau murka kepadanya. Sebaliknya, Bapa selalu menunggunya kembali dan menyambutnya dengan pesta yang meriah saat manusia mau kembali pada jalanNya. Akhirnya, manusia mengerti bahwa Tuhan bukan menempatkan kita ke dunia untuk sekedar mengumpulkan pahala atau perbuatan baik tetapi untuk menemukan jati diri kita sebagai anak-anak Allah. Kita terlahir sebagai manusia berdosa, dari awal kehidupan kita condong mengikuti perasaan, dan contoh dari sekeliling yang juga sudah terdistorsi, sudah bengkok/korup dari lingkungan di mana kita tumbuh.  

Selain itu, pelajaran yang tak kalah penting adalah tentang karakter sang Bapa. Selama bukan Tuhan yang berinisiatif untuk mengungkapkan diriNya pada manusia, manusia tak bisa berpikir tentang kebebasan hidup sejati selain kebebasan untuk lepas dari Tuhan (seperti anak bungsu yang memilih keluar dari rumah Bapa). Itulah Allah kita, Bapa yang baik, yang menciptakan kita hari lepas hari tanpa kita sadari, karena kita lebih sering memilih jalan kita sendiri. Bapa yang terus mencari pendosa dan menjanjikan kasihNya. Di lain sisi, anak sulung adalah umat yang setia menjalankan perintah Allah, namun dengan hati tertutup. Anak sulung berbuat baik dan patuh untuk mengharapkan imbalan Bapanya atau minimal dilihat sebagai umat yang lebih superior daripada yang lain. Namun, ia tak mampu menyambut saudaranya yang bersalah atau berpartisipasi dalam pesta Kristus, karena pada kenyataannya, ia tak tahu bagaimana cara mengasihi.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Sabda yang HidupBy wee twig