
Sign up to save your podcasts
Or


Bab 16 diawali dengan kisah tentang seorang bendahara yang dipercayai harta tuannya. Satu hal yang menjadi fokus di bab ini bukan perilaku bendahara yang tak jujur, namun Yesus memusatkan pada hal yang berbeda. Menyimpan dan menumpuk pundi-pundi dilakukan orang untuk mendapatkan keamanan hidup dan kepastian masa depan. Sebaliknya, Yesus mengingatkan untuk menggunakan uang dan menggunakannya tanpa ragu-ragu untuk sesuatu yang jauh lebih berharga seperti ikatan persahabatan atau hubungan yang bermanfaat. Kita bukanlah pemilik dari harta milik kita. Kita hanya sebagai pengelolanya. Uang bukanlah kebaikan yang sesungguhnya (bukan uang atau kekayaan yang membuat manusia benar di hadapan Allah). Tidak mungkin bagi seseorang untuk mengelola uang tanpa mendapatkan kepercayaan dari Tuhan dan sesamanya.
Dibanding para pengjinjil lain, Lukas menggaris bawahi adanya ketidak sesuaian antara agama yang benar dan cinta akan uang. Pada awalnya, orang Farisi percaya bahwa berkat kelimpahan materi adalah berkat dari Allah. Mereka percaya bahwa Tuhan akan mengganjar dengan banyak berkat pada siapapun yang setia padaNya, ketika mereka paham bagaimana mengelola kekayaan dunia. Kemudian seiring berjalannya waktu, mereka mulai tahu bahwa uang membawa lebih banyak bahaya, bahkan seringkala kelimpahan harta adalah hak istimewa bagi orang yang tak percaya (Mazmur 49, Ayub).
Uang pada akhirnya akan menguasai pemiliknya. Dengan uang, seseorang akan menyetujui peraturan moral yang membenarkan dirinya karena ia memiliki hak istimewa tersebut. Dan dengan segera, orang kaya lupa akan nilai sejati Injil; yaitu keadilan, kerendahan hati, dan kemiskinan. Dalam hidup menggereja, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena Gereja akan mendapatkan tekanan dan dibenci orang-orang yang mencari "Tuhan".
By wee twigBab 16 diawali dengan kisah tentang seorang bendahara yang dipercayai harta tuannya. Satu hal yang menjadi fokus di bab ini bukan perilaku bendahara yang tak jujur, namun Yesus memusatkan pada hal yang berbeda. Menyimpan dan menumpuk pundi-pundi dilakukan orang untuk mendapatkan keamanan hidup dan kepastian masa depan. Sebaliknya, Yesus mengingatkan untuk menggunakan uang dan menggunakannya tanpa ragu-ragu untuk sesuatu yang jauh lebih berharga seperti ikatan persahabatan atau hubungan yang bermanfaat. Kita bukanlah pemilik dari harta milik kita. Kita hanya sebagai pengelolanya. Uang bukanlah kebaikan yang sesungguhnya (bukan uang atau kekayaan yang membuat manusia benar di hadapan Allah). Tidak mungkin bagi seseorang untuk mengelola uang tanpa mendapatkan kepercayaan dari Tuhan dan sesamanya.
Dibanding para pengjinjil lain, Lukas menggaris bawahi adanya ketidak sesuaian antara agama yang benar dan cinta akan uang. Pada awalnya, orang Farisi percaya bahwa berkat kelimpahan materi adalah berkat dari Allah. Mereka percaya bahwa Tuhan akan mengganjar dengan banyak berkat pada siapapun yang setia padaNya, ketika mereka paham bagaimana mengelola kekayaan dunia. Kemudian seiring berjalannya waktu, mereka mulai tahu bahwa uang membawa lebih banyak bahaya, bahkan seringkala kelimpahan harta adalah hak istimewa bagi orang yang tak percaya (Mazmur 49, Ayub).
Uang pada akhirnya akan menguasai pemiliknya. Dengan uang, seseorang akan menyetujui peraturan moral yang membenarkan dirinya karena ia memiliki hak istimewa tersebut. Dan dengan segera, orang kaya lupa akan nilai sejati Injil; yaitu keadilan, kerendahan hati, dan kemiskinan. Dalam hidup menggereja, hal ini menjadi tantangan tersendiri karena Gereja akan mendapatkan tekanan dan dibenci orang-orang yang mencari "Tuhan".