Bab ini diawali dengan kisah orang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya: “Siapakah yang bersalah akan keadaan orang tersebut; dirinya sendiri ataukah orang tuanya?” Yesus mengatakan bahwa hal itu terjadi bukan karena kedua alasan tersebut melainkan karena rencana Allah yang akan dimaklumkan melalui hidup orang tersebut. Melakukan kehendak Allah dalam kehidupan ini, itulah pesan Yesus pada muridNya. Kuasa Allah bekerja saat Yesus memelekkan mata si buta. Setelah mencampur adukan tanah dan meminta si buta membasuh matanya di kolam Siloam, terbukalah mata si buta. Penyembuhan itu terjadi pada hari Sabat. Saat orang yang buta sejak lahir itu dihadapkan pada mahkamah agama Yahudi, bukannya mereka berbahagia untuk saudara sebangsanya yang telah sembuh, para pemuka agama malah mempermasalahkan waktu penyembuhan yang dilakukan Yesus pada hari Sabat.