Radio Rodja 756 AM

Jangan Menyalahkan Anak


Listen Later

Jangan Menyalahkan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 1 Rabi’ul Awwal 1444 H / 27 September 2022 M.
Kajian sebelumnya: Memberikan Bingkisan dan Hadiah
Jangan Menyalahkan Anak
Anak-anak tidak bisa dilepaskan dari mainan dan permainan, karena itu dunia mereka. Itu usia dimana seorang anak cenderung kepada aktivitas tersebut. Jadi tidak bijak orang tua yang melarang anaknya memiliki mainan dan bermain-main, serta memaksanya untuk belajar dengan porsi yang sangat ketat, hingga tidak ada waktu bermain bagi anak.
Anak berbeda dengan manusia yang sudah dewasa. Kadang-kadang anak disuruh belajar juga dia belum tahu dia belajar untuk apa. Maka supaya ada semangat untuk belajar juga, berikan porsi bermain untuk mereka. Terkadang ketika anak dicegah dari bermain -padahal fitrahnya bermain- dia tidak fokus pada pelajarannya. Hal ini karena kebutuhan mainnya tidak terpenuhi. Maka perlu kita beri hak mereka dalam di dalam bab ini.
Demikian pula kita sudah jelaskan sebelumnya bahwa jangan suka mencela anak atas kesalahan yang mereka lakukan. Karena tugas kita bukan mencela, akan tetapi membimbing. Ada nasihat yang penuh hikmah dari Abu Hamid Al-Ghazali, ia mengatakan: “Jjangan sering mencela anak, karena ia akan menganggap remeh ketika mendengar celaan, dan dia tetap melakukan kesalahan. Dan nasihat itu tidak lagi menyentuh hatinya.”
Celaan kita itu tidak menghentikannya dari berbuat salah. Karena anak itu memang identik dengan salah. Anak sama dengan salah. Karena kekurangan-kekurangan yang memang ada pada mereka. Kalau setiap kesalahan anak kita timpali dengan celaan, maka masalahnya tidak selesai, mereka tidak berhenti buat salah. Sementara mereka tidak lagi terpengaruh dengan celaan. Dan nasihat apapun tidak lagi menyentuh hatinya.
Kita sering dengar orang tua yang mengeluh “anak saya makin dilarang makin menjadi, makin disuruh makin malas.” Maka dalam hal ini jangan tergesa-gesa nyalakan anak. Mungkin barangkali cara kita yang salah. Sebagian orang tua ada yang terlalu mengumbar perintah dan larangan kepada anaknya tanpa ada penjelasan mengapa ia diperintahkan dan dilarang. Ia berkata kepada anaknya: “Jangan begini, jangan begitu,” tanpa penjelasan.
Hendaklah orang tua mendahulukan pendekatan yang lebih persuasif. Yaitu dengan menggunakan kata-kata yang bersifat informatif dan menghindari kata-kata yang bersifat instruktif. Tentu akan lebih membekas pada jiwa anak apabila kita mengatakan kepadanya kata-kata informatif (yang berisi ilmu). Intinya adalah sebuah instruksi, tanpa sadar anak akan mengerti dan segera melakukan apa yang kita kehendaki. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, bahwa Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu mengambil sebiji kurma dari harta zakat dan memakannya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang mengeluarkan kurma itu dari mulutnya dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Kemudian Nabi berkata kepada Al-Hasan:
أما شعَرْتَ أنَّا لا نأكُلُ الصدقةَ
“Tidakkah kamu tahu bahwa kita (keluarga Muhammad) tidak boleh memakan harta zakat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi menerima sedekah, tapi tidak menerima zakat. Maka Al-Hasan yang saat itu masih kecil mengerti mengapa perbuatannya salah. Yaitu karena kurma yang dimakannya itu kurma zakat, dan beliau termasuk ahli bait yang tidak boleh menerima harta zakat. Maka sabda Nabi tadi merupakan bentuk informas...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings