Jejaknixontae-Voice

Jejaknixontae-Voice

By Timorexotic.comNewsDaily News
Download on the App Store

Jejaknixontae-Voice episodes

  • Bakti Wanita Junior Gelar Workshop Mengenai Sistem Reproduksi pada Remaja Wanita
    Kesempatan yang sama disampaikan, Pdt. Deni Kana Djo, menyampaikan dilihat dari sudut pandang Alkitab ternyata apa yang disampaikan ini telah ada sejak jaman Alkitab. "Oleh karena itu kami para pendeta melihat bahwa ini adalah hal yang sangat penting dan belum ada kata terlambat untuk memberikan edukasi kepada anak-anak remaja dari usia 12 hingga 21 tahun," ucapnya.
    Lanjutnya, sebagai tokoh agama serta para penatua jemaat, memandang persoalan ini sangat serius.
    "Sehingga kami akhirnya berkolaborasi dengan Bakti Wanita Advent untuk mencetuskan acara ini. Karena itu kita mau mencegah para wanita remaja untuk menjaga diri dan menggunakan anatomi tubuh mereka dengan sebaik-baiknya supaya jangan menyimpang," jelasnya.
    Dikatakannya, dari pandangan Alkitab kita meminta agar para remaja wanita dapat mengetahui bahwa Allah sangat mengasihi mereka. "Karena Allah telah menciptakan sehingga harus menjaga tubuh dan hidup di masa muda. Dengan demikian bisa betul-betul mempersembahkan tubuh mereka menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan," ucap Pdt. Deni Kana Djo.
    6 min
  • Tarian Tebe Asal Kabupaten Belu & Malaka
    Tari Tebe adalah suatu tarian masyarakat Belu dan Malaka yang merupakan luapan kegembiraan atas keberhasilan atau kemenangan dimana para pria dan wanita bergandengan tangan sambil bernyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair dan pantun (kananuk) yang berisikan puji-pujian, kritikan atau permohonan, sambil menghentakan kaki sesuai irama lagunya.[1] Tarian ini dilakukan oleh penari pria dan wanita, dengan penari wanita membentuk lingkaran luar dan pria membentuk lingkaran dalam.[2] Namun peraturan mengenai posisi pria dan wanita ini tidak mutlak. Pada acara-acara kecil, penari pria dan penari wanita bisa saling bergandengan tangan dalam satu lingkaran.
    Pada zaman dahulu, tarian ini dilaksanakan para Meo pulang dari medan perang membawa kepala musuh, kemudian dipancangkan ditengah lalu mereka mengelilinginya semalam untuk dan biasanya selama 3 atau 4 hari lamanya.
    Tarian ini pada umumnya dipentaskan pada acara Gereja, Pernikahan, atau acara kegembiraan lainnya. Juga acara pendinginan rumah adat (rumah pemali) atau saat injak padi dan lain-lain.[1] Tarian Tebe juga dilakukan pada acara resmi pemerintah, misalnya acara Peletakan Batu Pertama, di mana tujuan tarian ini adalah untuk meminta izin tanah untuk membangun bangunan didaerah tersebut.[2]
    Tari ini biasa dilakukan di malam hari, tapi tidak menutup kemungkinan juga siang hari. Tebe akan dihentikan ketika matahari sudah mulai tampak di ufuk timur. Pada saat itu, tarian tebe berakhir dan semua penari akan duduk bersama di tikar besar untuk bersama-sama mencicipi hidangan sebagai tanda perpisahan.[3]
    Tarian Tebe hanya dilakukan jika ada suasana bahagia. Tarian Tebe tidak akan dilakukan pada acara kematian, peringatan kematian, dll. karena hal itu tidak sesuai dengan filosofi atau makna tari Tebe sendiri yaitu sebagai luapan kegembiraan.[2]
    Tarian Tebe tidak mengenal golongan dan usia. Setiap orang yang hadir dan mengikuti tari tebe dianggap sama.[3]
    Tarian ini dilaksanakan dengan iringan musik. Iringan musik yang dimaksud adalah pemutaran lagu daerah yang khusus diperuntukkan untuk tarian yang akan dilakukan. Lagu-lagu yang diputarkan tersebut sesuai dengan tema acara yang ada.
    Pada zaman dahulu, iringan musik tersebut berdasarkan pukulan gong dan teriakan dari masing-masing penari tebe.
    4 min
  • Karang Taruna Bonibais Gandeng Paroki Jalan Malang Jakarta Pusat Berbagi Kasih di Malaka
    Karang Desa Bonibais, Kecamatan Laenmanen, Kabupaten Malaka mengunjungi korban banjir bandang di Desa Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, dan Desa Numponi kecamatan Malaka Timur pada Rabu 28 April 2021
    Dalam bantuan kali ini karang taruna Bonibais menggandeng beberapa komunitas di Jakarta Pusat diantaranya: Lansia Adiyuswo, Alumni KEP-KKB, Wilayah Aloysius Gonzaga, dan Paroki Jalan Malang Jakarta Pusat.
    Ketua Karang Taruna Desa Bonibais Kristoforus Molo, kepada media menyampaikan bahwa "kami ini adalah relawan yang berbagi rasa bersama bapak mama, saudara/i sekalian karena kami menjunjung tinggi pri-kemanusiaan yang beralaskan kasih, kami manusia yang bernurani, yang siap memberikan pelayanan bagi bapak mama yang sedang membutuhkan". Lebih jelas Ia mengatakan bantuan ini tidak seberapa, namun setidaknya mengurangi sedikit beban dari bapak mama yang tertimpa musibah, ungkapnya ketika dijumpai media di lokasi.
    6 min

About Jejaknixontae-Voice

From the publisher's feed

Informasi Terbaru