
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- Menurut data survei dari situs penyedia lowongan kerja menyampaikan, sebanyak 38,3% perusahaan mengakui bahwa mereka menyaring jumlah resume pekerjaan dengan melihat tampilan foto para pelamar. Meski diskriminasi "tampilan luar" seseorang tidak separah dengan diskriminasi usia, tetapi "penampilan fisik" tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu tolak ukur perusahaan untuk menerima karyawan mereka.
Situs penyedia lowongan kerja "yes 123" menyampaikan, sebanyak 19,7% pekerja merasa didiskriminasi karena penampilan mereka. Di samping itu masih ada sekitar 61,1% pekerja mendapatkan penolakan halus karena tampilan fisik mereka tidak sepadan dengan posisi pekerjaan yang dilamar. 38,9% lainnya menyampaikan, mereka terang-terangan ditolak karena penampilannya yang dianggap tidak cocok.
Tidak hanya bagi mereka yang tengah mencari pekerjaan, perilaku diskriminasi juga datang dari berbagai pihak. 31,7% pekerja mengaku bahwa mereka harus menerima perlakukan tidak setara dari kolega (74,7%), bos (42,5%), manajer (40,5%), pelanggan (18,4%), konsumen (13,8%), dan mitra (9,2%).
Dalam survei yang dirilis oleh situs "yes 123" memperlihatkan, ada sekitar 62,3% pekerja berpikir jika promosi karier di sebuah perusahaan memiliki relasi erat dengan penampilan fisik, sedangkan 37,7% lainnya berpikir bahwa keduanya tidak terkait.
Juru bicara situs "yes 123", Yang Zong-bin (楊宗斌) menyampaikan, meskipun bentuk diskriminasi 'tampilan fisik' tidak separah dengan diskriminasi usia, tetapi tidak dapat dipungkiri jika penampilan menjadi salah satu tolak ukur seseorang diterima atau bahkan dipromosikan.
Menilik dari perspektif pengusaha, 38,3% perusahaan mengaku bahwa mereka menyeleksi resume yang masuk berdasarkan penampilan foto para pelamar. 24,7% lainnya membenarkan , jika tampilan fisik menjadi faktor apakah seseorang diterima atau tidak. Uniknya, 60% perusahaan mengaku menyesal telah memilih karyawan mereka berdasarkan tampilan fisik, setelah melihat performa karyawan tersebut.
Ketika ditanya, apakah para pengusaha bersedia menerapkan prosedur "Blind Hiring"? 74,1% menjawab bersedia dan 25,9% lainnya menjawab tidak bersedia.
By Aditya Nugraha, Rti(Taiwan, ROC) --- Menurut data survei dari situs penyedia lowongan kerja menyampaikan, sebanyak 38,3% perusahaan mengakui bahwa mereka menyaring jumlah resume pekerjaan dengan melihat tampilan foto para pelamar. Meski diskriminasi "tampilan luar" seseorang tidak separah dengan diskriminasi usia, tetapi "penampilan fisik" tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu tolak ukur perusahaan untuk menerima karyawan mereka.
Situs penyedia lowongan kerja "yes 123" menyampaikan, sebanyak 19,7% pekerja merasa didiskriminasi karena penampilan mereka. Di samping itu masih ada sekitar 61,1% pekerja mendapatkan penolakan halus karena tampilan fisik mereka tidak sepadan dengan posisi pekerjaan yang dilamar. 38,9% lainnya menyampaikan, mereka terang-terangan ditolak karena penampilannya yang dianggap tidak cocok.
Tidak hanya bagi mereka yang tengah mencari pekerjaan, perilaku diskriminasi juga datang dari berbagai pihak. 31,7% pekerja mengaku bahwa mereka harus menerima perlakukan tidak setara dari kolega (74,7%), bos (42,5%), manajer (40,5%), pelanggan (18,4%), konsumen (13,8%), dan mitra (9,2%).
Dalam survei yang dirilis oleh situs "yes 123" memperlihatkan, ada sekitar 62,3% pekerja berpikir jika promosi karier di sebuah perusahaan memiliki relasi erat dengan penampilan fisik, sedangkan 37,7% lainnya berpikir bahwa keduanya tidak terkait.
Juru bicara situs "yes 123", Yang Zong-bin (楊宗斌) menyampaikan, meskipun bentuk diskriminasi 'tampilan fisik' tidak separah dengan diskriminasi usia, tetapi tidak dapat dipungkiri jika penampilan menjadi salah satu tolak ukur seseorang diterima atau bahkan dipromosikan.
Menilik dari perspektif pengusaha, 38,3% perusahaan mengaku bahwa mereka menyeleksi resume yang masuk berdasarkan penampilan foto para pelamar. 24,7% lainnya membenarkan , jika tampilan fisik menjadi faktor apakah seseorang diterima atau tidak. Uniknya, 60% perusahaan mengaku menyesal telah memilih karyawan mereka berdasarkan tampilan fisik, setelah melihat performa karyawan tersebut.
Ketika ditanya, apakah para pengusaha bersedia menerapkan prosedur "Blind Hiring"? 74,1% menjawab bersedia dan 25,9% lainnya menjawab tidak bersedia.