Kampus

Kampus


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Virus korona yang merebak di kawasan Kota Wuhan pada akhir tahun 2019 lalu, sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupan masyarakat Republik Rakyat Tiongkok. Sebuah jajak pendapat baru-baru ini memperlihatkan bahwa masyarakat RRT memiliki banyak perubahan perilaku selama prosedur “lockdown” berlangsung. Toleransi mereka terhadap sikap individualistis semakin berkurang, dan mereka lebih memiliki semangat untuk menjalankan prosedur kehidupan yang lebih tertib. Di samping itu, respons warga Negeri Tirai Bambu terhadap nilai dan rasa bersyukur kian meningkat.

Media Reuters mewartakan, lembaga survei Belanda-Glocalities, melakukan survei secara online pada tanggal 23 Januari 2020 hingga 13 Maret 2020 dengan mengambil 2022 sampel warga RRT. Jajak pendapat ini disusun, untuk meneliti  nilai karakteristik warga terhadap kondisi setempat, terutama setelah prosedur “lockdown” diumumkan.

Jika menilik keadaan sebelum wabah COVID-19 terjadi, survei ini menemukan lima perubahan besar, di antaranya jumlah warga yang mementingkan perilaku sopan santun kian meningkat, semakin banyak warga yang tidak mendukung sikap individualistis, keinginan yang lebih besar dari khalayak umum untuk hidup secara terstruktur, kemauan untuk menempuh pendidikan tinggi yang kian bertambah dan rasa saling menghargai serta bersyukur atas dedikasi pihak lain yang semakin meningkat.

Rasa kepercayaan para warga terhadap sektor pendidikan meningkat menjadi 82%, sedangkan rasa kepercayaan mereka terhadap kinerja Pegawai Negeri Sipil juga bertambah menjadi 54 %. Selain itu, rasa kepercayaan masyarakat RRT terhadap perusahaan lokal meningkat menjadi 70%.

Direktur yang mengepalai survei ini, Martijn Lampert menyampaikan, dampak parah yang dibawa oleh wabah COVID-19 kali ini, akan mengubah sikap dan tatanan warga dunia dalam berperilaku.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

KampusBy Aditya Nugraha, Rti