
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- Setelah terus menyebar luas di Italia dan Iran, wabah COVID-19 kini juga mulai menjamah kawasan Asia Tengah dan Benua Eropa. Ditambah lagi kebiasaan-kebiasaan penduduk setempat yang akhirnya membuat virus pneumonia ini akan semakin mudah tersebar, seperti mengucapkan salam dengan saling berpelukan dan lemahnya kesadaran untuk menggunakan masker mulut. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah warga yang positif COVID-19 dikabarkan meningkat drastis terutama di kawasan seperti Jerman, Prancis dan Spanyol. Situasi terburuk terjadi di kawasan Italia, yang saat ini juga telah memerintahkan untuk lockdown seluruh wilayah di negeri tersebut. Banyak wilayah di Amerika Serikat juga dilaporkan telah terinfeksi COVID-19. Hingga artikel ini ditulis, telah ada 2 pemain NBA yang juga positif COVID-19, yang akhirnya memutuskan untuk menangguhkan sementara jadwal pertandingan, guna mencegah para pemain dan penonton akan kemungkinan terinfeksi.
Dalam menghadapi fenomena pandemi COVID-19 yang kian menyebar, negara-negara di dunia telah memerintahkan untuk melarang para warganya untuk sementara melakukan perjalanan ke luar negeri. Di samping itu, kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi banyak orang diminta untuk dihentikan. Larangan-larangan tersebut dikeluarkan adalah bukan lain untuk meminimalisasi kemungkinan terinfeksi pandemi COVID-19. Dengan demikian, akan membuat jumlah permintaan terhadap sektor pariwisata, penerbangan dan katering mengalami penurunan yang signifikan. Pada saat yang sama, harga minyak dunia juga rontok di pasar ekonomi. OPEC yang awalnya berharap dapat mengurangi jumlah produksi minyak mentah mereka, mendapat penolakan dari salah satu negara penghasil minyak, yaitu Rusia. Ketidak-sepakatan antar OPEC dengan Rusia, membuat harga minyak jatuh dan menyentuh level terendah.
Di tengah pengaruh harga minyak dan pandemi COBID-19, sektor perekonomian dunia dihadapkan dengan kondisi yang penuh kebimbangan. Para investor global mulai kelimpungan, dan kehilangan rasa optimistis terhadap ekonomi di masa mendatang. Mereka pun mulai panik dan menjual saham-saham mereka. Pekan lalu, indeks bursa saham Amerika Serikat Dow Jones rontok sebanyak 2013 poin, yang merupakan terbanyak kedua dalam sejarah pasar saham setempat. Karena kejatuhan yang terlampau rendah, bursa saham AS pun menekan tombol sinyal “Trading Curb”, yang menghentikan seluruh kegiatan jual-beli selama 15 menit.
By Aditya Nugraha, Rti(Taiwan, ROC) --- Setelah terus menyebar luas di Italia dan Iran, wabah COVID-19 kini juga mulai menjamah kawasan Asia Tengah dan Benua Eropa. Ditambah lagi kebiasaan-kebiasaan penduduk setempat yang akhirnya membuat virus pneumonia ini akan semakin mudah tersebar, seperti mengucapkan salam dengan saling berpelukan dan lemahnya kesadaran untuk menggunakan masker mulut. Dalam beberapa hari terakhir, jumlah warga yang positif COVID-19 dikabarkan meningkat drastis terutama di kawasan seperti Jerman, Prancis dan Spanyol. Situasi terburuk terjadi di kawasan Italia, yang saat ini juga telah memerintahkan untuk lockdown seluruh wilayah di negeri tersebut. Banyak wilayah di Amerika Serikat juga dilaporkan telah terinfeksi COVID-19. Hingga artikel ini ditulis, telah ada 2 pemain NBA yang juga positif COVID-19, yang akhirnya memutuskan untuk menangguhkan sementara jadwal pertandingan, guna mencegah para pemain dan penonton akan kemungkinan terinfeksi.
Dalam menghadapi fenomena pandemi COVID-19 yang kian menyebar, negara-negara di dunia telah memerintahkan untuk melarang para warganya untuk sementara melakukan perjalanan ke luar negeri. Di samping itu, kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi banyak orang diminta untuk dihentikan. Larangan-larangan tersebut dikeluarkan adalah bukan lain untuk meminimalisasi kemungkinan terinfeksi pandemi COVID-19. Dengan demikian, akan membuat jumlah permintaan terhadap sektor pariwisata, penerbangan dan katering mengalami penurunan yang signifikan. Pada saat yang sama, harga minyak dunia juga rontok di pasar ekonomi. OPEC yang awalnya berharap dapat mengurangi jumlah produksi minyak mentah mereka, mendapat penolakan dari salah satu negara penghasil minyak, yaitu Rusia. Ketidak-sepakatan antar OPEC dengan Rusia, membuat harga minyak jatuh dan menyentuh level terendah.
Di tengah pengaruh harga minyak dan pandemi COBID-19, sektor perekonomian dunia dihadapkan dengan kondisi yang penuh kebimbangan. Para investor global mulai kelimpungan, dan kehilangan rasa optimistis terhadap ekonomi di masa mendatang. Mereka pun mulai panik dan menjual saham-saham mereka. Pekan lalu, indeks bursa saham Amerika Serikat Dow Jones rontok sebanyak 2013 poin, yang merupakan terbanyak kedua dalam sejarah pasar saham setempat. Karena kejatuhan yang terlampau rendah, bursa saham AS pun menekan tombol sinyal “Trading Curb”, yang menghentikan seluruh kegiatan jual-beli selama 15 menit.