Karamah Wali Disebabkan Iman dan Takwa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada Sabtu, 4 Dzulqa’idah 1443 H / 04 Juni 2022 M.
Kajian sebelumnya: Karamah Para Wali
Karamah Wali Disebabkan Iman dan Takwa
Pada kajian sebelumnya telah kita sebutkan bahwa syarat wali adalah iman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melaksanakan yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits wali:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh Allah berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan atas dia. Dan hambaKu masih terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya. Dan kalau Aku sudah mencintainya, maka pendengarannya yang dengannya dia mendengar sesuai dengan keinginanKu, matanya yang dengannya dia melihat juga sesuai dengan keinginanKu, tangannya yang dengannya dia memegang dengan kuat juga berjalan sesuai dengan keinginanKu, dan kakinya yang dengannya dia berjalan itu juga sesuai dengan keinginanKu. Dan kalau seandainya dia meminta, niscaya Aku akan beri. Dan kalau seandainya dia meminta perlindungan maka Aku akan berikan perlindungan.’” (HR. Bukhari)
Lihat: Hadits Arbain Ke 38 – Wali Allah Adalah Orang-Orang Yang Beriman dan Bertakwa
Tidak disyaratkan bagi seorang wali ‘ishmah (kemakshuman). Artinya seorang wali tidak makshum. Karena yang makshum para Nabi dan Rasul. Dan seorang Nabi lebih mulia dari seluruh wali yang ada. Kitsoua tidak boleh mengutamakan wali atas Nabi.
Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bahwa karamahnya para wali Allah diperoleh dengan sebab barakah dia mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ketika seseorang mendapatkan karamah, maka itu sebagai cobaan/ujian untuknya. Apakah dia istiqamah atau tidak? Bukan kemudian dia ujub dengan karamah itu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata bahwa sesungguhnya puncaknya karamah adalah dengan tetap istiqamah dalam iman dan ketaatan kepada Allah. Artinya kalau dia pernah mendapatkan demikian, maka dilihat sesudahnya. Apakah tetap dia taat kepada Allah atau tidak? Kalau dia ujub, maka itu membinasakan dia.
Bagaimana karamah para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Mari download dan simak