Ketakwaan Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 7 Jumadil Awal 1445 H / 20 November 2023 M.
Kajian Islam Ilmiah Tentang Ketakwaan Hati
Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.
“Janganlah kalian saling iri, janganlah kalian saling berjual beli dengan cara najasy, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi. Janganlah sebagian kalian menjual barang yang ditawar oleh yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Ia tidak boleh mendzaliminya, tidak boleh membiarkannya, tidak boleh menghinanya. Dan ketakwaan itu ada di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang disebut sebagai orang yang buruk jika ia menghina dan merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim yang lainnya maka haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa tempat ketakwaan dan sumber ketakwaan ada di hati. Maka ketika hati dipenuhi dengan ketakwaan, maka anggota badan yang lain akan tunduk dan mengikutinya. Karena anggota badan lainnya mengikuti hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandarkan ketakwaan kepada hati, sebagaimana firman Allah:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj[22]: 32)
Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyandarkan ketakwaan kepada hati, karena hakikat ketakwaan itu adalah ketakwaan hati. Dan membatasi ketakwaan kepada hati mengisyaratkan bahwa ketakwaan terbagi dua:
* Ketakwaan hati, yaitu ketakwaan yang sebenarnya, yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan jujur keimanannya.
* Takwa anggota badan, yaitu takwa yang hanya penampilan luar saja, ketakwaan dusta yang dimiliki oleh orang munafik. Anggota badan mereka kebanyakan tidak khusyuk dan hati mereka lupa serta lalai.
Allah Ta’ala berfirman:
… فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Janganlah kalian menganggap bahwa diri kalian suci, karena sesungguhnya Dia-lah Allah yang mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm[53]: 32)
Karena ketakwaan tempatnya adalah hati, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang bisa melihatnya, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa memberi balasan dari kebaikan ketakwaan.