Keutamaan Ilmu dan Ulama merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah pada Ahad, 20 Dzulhijjah 1444 H / 9 Juli 2023 M.
Ceramah Agama Islam Tentang Keutamaan Ilmu dan Ulama
Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu tentang agama. Al-Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah ketika menyebutkan tentang definisi ilmu, beliau berkata: “Hakikat ilmu adalah yang difirmankan oleh Allah, dan disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan apa yang dipahami oleh para sahabat, bukan sesuatu yang sifatnya dibuat-buat. Ilmu bukan dengan menabrakkan antara dalil dengan pendapat ulama.”
Imam Asy-Syafi’i berkata: “Ilmu adalah yang ada padanya ucapan haddatsana (ungkapan untuk menunjukkan bahwa sanadnya bersambung sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Selain itu hanyalah was-was setan saja.”
Artinya kalau ilmu itu tidak nyambung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, itu hakikatnya bukanlah ilmu. Maka setiap ilmu yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits dan apa yang dipahami oleh para sahabat, itu hakikatnya bukan ilmu.
Oleh karena itu majelis bid’ah tidak disebut majelis ilmu. Karena bid’ah bukan ilmu, bid’ah hakikatnya terputus dan tidak sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Demikian pula setiap orang yang berbicara dalam agama ini tanpa ilmu, hanya sebatas pendapat-pendapat, ini pun hakikatnya bukan ilmu.
Belajar ilmu agama itu merupakan perkara yang wajib bagi setiap muslim, baik itu yang sifatnya wajib ain maupun wajib kifayah. Allah mencela orang yang hanya berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya berilmu tentang lahiriah kehidupan dunia, sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat.” (QS. Ar-Rum[30]: 7)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إن اللهَ يَبغضُ كلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ، سَخَّابٍ في الأسواقِ، جيفةٍ بالليلِ، حِمارٍ بالنهارِ، عالمٍ بأمرِ الدنيا، جاهلٍ بأمرِ الآخِرةِ
“Allah benci kepada orang yang sombong, kasar, suka berteriak-teriak, diwaktu malam bagaikan bangkai, diwaktu siang bagaikan keledai, berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat.” (HR. Ibnu Hibban)
Ternyata orang yang berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat termasuk orang yang dibenci oleh Allah.
Diantara tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk ilmu. Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً…
“Ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menciptakan makhluk yang akan berbuat kerusakan di muka bumi dan mengucurkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 30)
Lalu Allah ingin memperlihatkan kepada malaikat hikmah diciptakannya Nabi Adam. Allah berfirman setelahnya:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Allah pun mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Allah menampakkan kepada para malaikat, lalu Allah berfirman: ‘Coba beritahu kepadaKu tentang nama-nama itu semuanya jika kalian orang-orang yang benar.'” (QS. Al-Baqarah[2]: 31)
Tampaklah kepada malaikat hikmah diciptakan Nabi Adam. Ternyata Allah menciptakan Nabi Adam untuk ilmu. Ternyata Allah lebihkan Nabi Adam di atas malaikat dengan ilmu.