Keutamaan Surah Al-Fath adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah tematik oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 14 Ramadhan 1445 H / 25 Maret 2024 M.
Kajian Tentang Keutamaan Surah Al-Fath
Telah mengabarkan kepada kami [Isma’il] ia berkata, Telah mengabarkan kepadaku [Malik] dari [Zaid bin Aslam] dari [ayahnya] bahwasanya; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berjalan di sebagian safarnya. Dan Umar bin Al Khaththab pernah berjalan bersama beliau di suatu malam, kemudian Umar bertanya tentang sesuatu, namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjawabnya. Kemudian Umar bertanya lagi, dan beliau tidak menjawabnya. Lalu bertanya lagi, tetapi beliau tidak menjawabnya. Maka [Umar] pun berkata, “Merugi sekali engkau Umar, engkau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai tiga kali, tapi semuanya tidak dipedulikan.” Kemudian Umar berkata; “Maka aku gerakkan Untaku sampai berada di depan manusia, dan aku khawatir Al-Qur’an turun tentangku. Aku tak peduli suara teriakan.” Umar melanjutkan, “Sungguh, aku khawatir Al-Qur’an turun tentangku. Maka aku segera mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu mengucapkan salam kepada beliau. Beliau bersabda,
لَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ سُورَةٌ لَهِيَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
“Sesungguhnya telah turun kepadaku di malam hari, surat itu yang lebih aku sukai, daripada terbitnya matahari.’ Kemudian beliau pun membacakannya pada kami: ‘INNAA FATAHNAA LAKA FATHAN MUBIINAA (QS. Alfath).” (HR. Bukhari)
Surah Al-Fath merupakan surah yang sangat agung yang turun kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala.
Mencela diri sendiri
Seseorang bisa marah pada dirinya sendiri dan mencela dirinya sendiri. Umar Radhiyallahu ‘Anhu berjalan bersama Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di suatu malam. Umar bertanya kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak dijawab. Umar tidak marah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umar mencela dirinya sendiri dan marah pada dirinya.
Umar berkata, “Akilatka ummuka, merugilah engkau, wahai Umar.” Kemudian faedah yang kedua, tidak menjawab ghair lilahatiaslahatin li Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lamallahu ahu Alaihi wasall ahsan ak lakinlahu allibahu, inam yakun hunakaun ini faedah yang kedua, tidak menjawab pertanyaan orang lain karena ada sebuah maslahat, jadi boleh tidak menjawab pertanyaan orang kalau ada suatu maslahat.
Tidak menjawab pertanyaan karena ada maslahat
Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya oleh Umar, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menjawabnya. Padahal kita sama-sama tahu bahwa Umar merupakan sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah setelah Abu Bakar. Dan kita tahu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nabi yang paling bagus akhlaknya. Akan tetapi ada maslahat yang menuntut beliau tidak menjawab di sini.
Kita yakin bahwa Rasul tidak menjawab karena tentunya ada maslahat tertentu. Walaupun mungkin kita tidak tahu udzurnya. Jadi tidak semua pertanyaan itu harus di jawab,