Khutbah Jumat: Lari dari Fitnah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 19 Safar 1444 H / 16 September 2022 M.
Khutbah Pertama Khutbah Jumat: Lari dari Fitnah
Sesungguhnya kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Fitnah berupa aqidah yang menyimpang, fitnah berupa syubuhat, fitnah berupa syahwat, dan berbagai macam penyimpangan-penyimpangan yang lainnya. Fitnah-fitnah tersebut menyebabkan cahaya iman semakin pudar di hati seorang hamba.
Maka seorang mukmin agar selamat dari fitnah, ia diperintahkan oleh syariat kita untuk lari dari fitnah dan menjauhi darinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يُوشَكُ أنْ يكونَ خيرَ مالِ المسلمِ غَنَمٌ يَتَّبعُ بها شَعَفَ الجبالِ، ومواقعَ القطرِ يَفِرُّ بدينِهِ من الفتنِ
“Hampir hampir sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang ia pelihara di puncak-puncak gunung dan di lembah-lembah, ia lari membawa agamanya (berusaha untuk menyelamatkan dirinya) dari fitnah.” (HR. Bukhari)
Adapun kemudian kita malah mendekati fitnah, mencampakkan diri kepada fitnah, dan membuka hati kita kepada setiap fitnah, demi Allah kita tidak akan selamat dari fitnah.
Seorang mukmin sangat khawatir apabila agama dan hatinya terfitnah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ketika mengabarkan akan munculnya fitnah:
تَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا، وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: هَذِهِ مُهْلِكَتِي، ثُمَّ تَنْكَشِفُ
“Datang fitnah, seorang mukmin berkata: ‘Ini yang akan membinasakanku.’ Lalu fitnah itu pergilah. Lalu datang lagi fitnah, seorang mukmin berkata lagi: ‘Ini yang akan membinasakanku.’ Lalu fitnah itu pergi…”
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Siapa yang ingin diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat.” (HR. Muslim)
Lihatlah si Mukmin ini, ketika dia melihat fitnah ia sadar itu adalah perkara yang bisa membinasakan agama dan keimanannya. Dia berkata: “Ini yang akan membinasakanku.” Maka segera ia lari, saudaraku.
Adapun kemudian kita mencampakkan diri kita kepada fitnah, lalu kita merasa bahwa iman kita tidak akan berkurang dan hati kita tidak akan tergoda, Subhanallah, ini adalah merupakan sikap orang-orang yang tidak menyadari tentang hakikat fitnah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang lain:
تُعْرَضُ الفِتَنُ علَى القُلُوبِ كالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا…
“Fitnah itu dijalin dalam hati seperti dijalinnya tikar, seutas demi seutas. Hati mana saja yang mengingkari fitnah tersebut, akan diberikan goresan yang putih. Hati mana saja yang menerima fitnah, maka akan diberikan goresan hitam. Sehingga menjadi dua hati; (1) hati yang hitam dan kelam bagaikan cangkir yang dibalikkan, dia sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak lagi mengingkari yang munkar. (2) hati yang putih bersih, tidak dibahayakan oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada.” (HR. Muslim)
Itu hati orang-orang yang mengingkari fitnah, hati orang-orang yang lari dari fitnah, menyelamatkan hatinya, keimanannya dan agamanya. Karena modal kita menuju kuburan adalah hati, keselamatan kita pada hari kiamat adalah keselamatan hati kita. Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾
“Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak,