Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jumat, 2 Ramadhan 1444 H / 24 Maret 2023 M.
Khutbah Jumat: Tiga Perkara Yang Menyempurnakan Amal
Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberikan kepada kita kesempatan untuk bisa beribadah di bulan Ramadhan yang mulia ini. Sungguh bulan Ramadhan adalah merupakan nikmat Allah yang besar kepada kita. Karena dengan adanya bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita banyak sekali kebaikan-kebaikan, berupa ampunan dari dosa, dan diangkatnya derajat-derajat kita.
Maka saudaraku.. Inilah bulan yang mulia. Kesempatan kita untuk memperbanyak beramal shalih dan menyelamatkan diri kita dari api neraka. Karena setiap kita berkewajiban untuk menyelamatkan dirinya dari api neraka dengan banyak beramal shalih, menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan-larangan.
Namun saudaraku.. Amal ketaatan tidak akan sempurna kecuali dengan tiga perkara. Al-Imam Ibnu Qudamah menyebutkan itu dalam Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin:
لا يتم المعروف إلا بثلاث : بتصغيره، وتعجيله، وستره
“Tidak sempurna amal kebaikan kecuali dengan tiga perkara; [pertama] tidak menganggap bahwa amal kita banyak, [kedua] segera melakukannya dan tidak menunda-nunda, [ketiga] menyembunyikannya/tidak memperlihatkan kepada manusia.”
1. Menyegerakan Amalan Shalih
Sesungguhnya itu yang diperintahkan oleh Allah. Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ …
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan Rabb kalian…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 133)
Allah juga berfirman:
وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
“Dalam perkara itulah hendaklah orang-orang yang berlomba-lomba itu berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin[83]: 26)
Allah menyuruh kita bersegera kepada segala kebaikan. Ini menunjukkan bahwa ketika bersegera tentu kita tidak menunda-nunda sampai waktu esok ataupun kapan. Karena sesungguhnya sifat menunda-nunda bukanlah sifat seorang mukmin yang semangat di dalam beramal shalih.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Jauhi oleh kalian sifat taswif (menunda-nunda). Karena engkau berada di hari ini, bukan di hari esok. Jika engkau bisa melakukan di hari ini besok pun engkau bisa melakukannya.”
Saudaraku seiman.. Sifat menunda-nunda bukanlah sifat orang yang semangat, akan tetapi ia adalah sifat pemalas. Orang yang senantiasa menunda hakikatnya ia tertipu oleh setan. Setan berusaha bagaimana supaya ia menunda-nunda amal shalihnya. Oleh karena itulah Abdullah bin Umar bin Khattab ketika membawakan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah kamu di dunia seakan-akan kamu orang yang asing atau kamu sedang berada dalam perjalanan safar.”
Lalu Abdullah bin Umar berkata: “Kalau kamu berada di waktu pagi, jangan tunggu-tunggu waktu sore. Dan kalau kamu berada di waktu sore, jangan tunggu-tunggu waktu pagi. Ambil kesempatan sehatmu sebelum kamu sakit. Dan ambil kesempatan hidupmu sebelum kamu meninggal dunia.”
Maka saudaraku.. Kita berusaha setiap kali Allah berikan kepada kita kesempatan beramal shalih, jangan sampai kita tunda dan berkata “nanti dan nanti”.
Demi Allah, saudaraku.. Kita tidak tahu kapan ajal kita akan datang. Maka ketika Allah berikan kepada kita sekarang di bulan Ramadhan ada kesempatan emas untuk menggugurkan dosa-dosa, maka kita gunakan sebaik-baiknya puasa Ramadhan ini dengan banyak beramal shalih, dengan membaca Al-Qur’an,