Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Jumadal Ula 1445 H / 12 Desember 2023 M.
Sebelumnya: Prinsip-Prinsip dalam Pekerjaan
Kajian Tentang Kitab Terbaik yang Bisa Dipelajari oleh Seorang Muslim
Syaikhul Islam ditanya tentang kitab terbaik yang bisa diambil oleh seorang Muslim untuk menjadi buku agama pertama yang dia pelajari setelah Al-Qur’an. Maka, menjawab pertanyaan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan bahwa kitab yang bisa dijadikan sandaran dalam menuntut ilmu adalah bab yang luas. Jawabannya juga bisa berbeda dari satu orang ke orang yang lain, tergantung pada perbedaan negara tempat mereka tumbuh. Karena di sebagian negara, orang bisa dengan mudah mendapatkan salah satu ilmu, tapi tidak mudah mendapatkan ilmu yang lain. Atau juga karena ada perbedaan metode mencari ilmu dari satu negara ke negara yang lain. Kemudian, juga ada perbedaan madzhab yang umum dipakai di suatu negara, dimana tidak umum dipakai di negara lain. Jadi, ini semuanya berpengaruh kepada jawaban untuk kitab apa yang bisa dijadikan pegangan bagi seorang Muslim.
Kenapa beliau mengatakan bahwa jawabannya bisa berbeda dari perbedaan negara tempat seseorang tumbuh? Karena ada ilmu yang berkembang di suatu negara, dibandingkan dengan negara yang lain. Misalnya pada masa lalu, negeri Hijaz (Mekah dan Madinah) dikenal sangat kuat dalam tradisi ilmu hadits. Maka, hadits-hadits mudah dijumpai, banyak diriwayatkan di kota-kota dan desa di Hijaz, yakni di seputar Laut Merah. Ini merupakan potongan Jazirah Arab yang paling dekat dengan Kota Mekah dan Madinah, dimana wahyu paling banyak turun di antara keduanya.
Sementara di Irak, hadits dan ilmu hadits relatif lebih sulit untuk dicari. Maka di sana, para ulamanya lebih kuat dari sisi logika atau qiyas. Hal ini karena dahulu mereka tidak mudah mendapatkan hadits-hadits. Maka dalam sebagian pembahasan fikih, mereka terpaksa memakai qiyas atau logika, karena tidak menemui hadits dengan mudah di sana.
Demikian juga dengan perbedaan cara untuk bisa mendapatkan ilmu atau perbedaan metode yang biasa dipakai oleh umat Islam dalam menuntut ilmu. Misalnya, di negeri kita sekarang dengan mudah mendapatkan pondok pesantren. Sementara model pondok pesantren bukanlah model yang populer dan umum di negara seperti Saudi Arabia. Di sana, para penuntut ilmu biasanya mencukupkan diri dengan sekolah. Kemudian, di sore atau malam hari, ditambah dengan halaqoh tahfidzul qur’an di masjid-masjid yang menjamur di seluruh penjuru negeri. Maka, jarang sekali ada orang yang tinggal di sekolah berasrama. Kecuali kalau sudah menginjak level perguruan tinggi, baru mereka biasa safar untuk menuntut ilmu dengan ngekos (berasrama) di kota-kota besar dimana banyak kampus-kampus yang menyediakan pendidikan yang lebih tinggi. Tapi di level SMP atau SMA sangat jarang ditemui ada pondok pesantren di sana. Ini juga bisa berpengaruh kepada kitab apa yang dianjurkan untuk dipelajari.
Kemudian, juga di negeri kita, Alhamdulillah ada kemudahan-kemudahan mendapatkan tempat untuk belajar. Sementara di sebagian negeri umat Islam kita juga mengenal ada perbedaan. Misalnya, di negeri kita, umat Islam banyak belajar membaca Al-Qur’an dengan metode yang ditemukan oleh para ulama.
Di Indonesia, misalnya,