Tinta Membaca

M1E5: 30 Tahun Kemudian


Listen Later

karya Goenawan Mohamad

30 tahun kemudian mereka bertemu di restoran dekat danau.

Hujan dan kenangan berhimpitan, berbareng,

seperti lalu lintas yang langgeng.

Terkadang badai meracau,

langit kian dekat, dan dari tebing dingin berjalin dengan basah
pucuk andilau

ketika mereka duduk berlima,

dengan tuak putih tua,
bertukar cerita tentang lelucon angka tahun

dan rasa asing pensiun,

mengeluhkan anak yang pergi dari tiap bandar
dan percakapan-percakapan sebentar.

Terkadang mereka seakan-akan dengarkan teriak trompet dari

kanal seperti jerit malaikat yang kesal
dan mereka tertawa.

Sehabis sloki ketiga,

waktu pun berubah seperti pergantian prisma:
masa lalu adalah huruf yang ditinggalkan musim pada
marmar makam Cina.

Kerakap memberinya warna. Kematian memberinya kata.

Dan pada sloki ke-4 dan ke-5 mereka dengarkan angin susul

menyusul, seakan seorang orang tua bersiul
dengan suara kisut
ke bulan yang berlumut.

Pada sloki ke-6 mereka menunggu malam singgah dalam

topeng Habsi. Dan tuhan dalam baju besi.

30 tahun kemudian mereka tak akan bertemu lagi di sini.

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Tinta MembacaBy Tinta Membaca