
Sign up to save your podcasts
Or


Info pekan ini
~ Yuk belajar AI, Professor AS minta siswa untuk membiasakan diri dengan ChatGPT
Banyak sekolah terkenal di AS, Perancis, dan India sudah secara tegas melarang penggunaan ChatGPT dalam membantu siswa untuk merilis sebuah artikel ataupun tugas sekolah, dengan kenyamanan ini AI menjadi sebuah hal yang sangat kontroversif dalam komunitas akademis.
Namun, beberapa profesor dari berbagai perguruan tinggi dan Universitas Amerika mengambil arah yang berlawanan, bahkan menjadikan AI atau ChatGPT menjadi kurikulum dalam metode pengajaran. mereka percaya bahwa mencari tahu terkait sebuah persoalan dengan menggunakan teknologi AI akan sangat membantu para siswa menjadi lebih kreatif dan lebih mahir dengan alat generatif AI. di lain sisi memang ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa harus ada beberapa penerapan metode yang tepat dalam menerapkan AI demi penuntasan sebuah permasalahan.
Baik dalam menulis sebuah program, atau mengusulkan sebuah makalah, atau menata ulang dan mengedit sebuah artikel agar dapat lebih mudah di baca oleh pihak ke 3, DLL semua ini dapat di lakukan dengan mudah di kerjakan oleh ChatGPT. dengan begitu apakah seorang siswa akan tetap belajar secara patuh dan rajin? tidak sedikit guru sekolah dan tenaga pengajar yang merasa khawatir.
Oleh karena itu, baru-baru ini baik dari Sciences Po sebuah sekolah sains terbaik asal Perancis, atau sekolah umum Seattle - AS, dll yang terdiri dari 100 lebih sekolah dasar, SMP, dan SMA dengan total lebih dari 50.000 pelajar. belum lagi di tambah dengan institusi jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti universitas yang mengkhawatirkan penggunaan ChatGPT bagi siswa, dengan alasan penggunaan Plagiarisme dan pengerjaan PR dari sekolah, dimana ini akan sangat sulit untuk di lacak baik dari pihak sekolah maupun orang tua. maka dari itu hal ini tentu juga akan berimpak kepada efek pembekalan dari sekolah yang di rasa tidak selaras dengan kemudahan teknologi ini.
Tidak belajar ChatGPT, anda tidak dapat mengikuti perkembangan jaman, akan tetapi masih ada beberapa pengajar di kalangan universitas yang menganggap ChatGPT sebagai peluang dan dengan jelas menetapkan bahwa ChatGPT adalah sebuah metode pembelajaran yang sangat tepat untuk di gunakan para siswa seusai jam sekolah, misal diskusi kelas, meningkatkan kemampuan seorang siswa dalam menggunakan AI untuk mencari solusi terbaru DLL.
Menurut sebuah laporan oleh Radio Publik Nasional AS, Ethan Mollick seorang profesor asal departemen Manajemen di Wharton School of the University of Pennsylvania AS, dalam kelasnya “ Kewirausahaan dan Inovasi “ alih-alih melarang menggunakan ChatGPT, dirinya malah meminta siswa untuk menggunakannya dan berteman baik dengan ChatGPT.
Permintaan ini sudah menjadi kurikulum pengajarannya, bahwa silabus dalam penggunaan layanan kecerdasan buatan telah menjadi keterampilan yang baru, namun dirinya juga tetap mengingatkan para siswanya bahwa ChatGPT juga bisa salah. sebagai seorang siswa harus memastikan hasilnya sendiri serta mengecek ulang keabsahan sebuah informasi dari sumber lainnya, apabila terdapat kesalahan ataupun kekurangan para penulis akan bertanggung jawab penuh atas tulisan yang di rilis, dimana kode etik akademisi masih tetap harus di praktekkan dengan cara membubuhkan setiap tulisan yang terlampir harus secara jelas menjabarkan sumber dari pengambilan informasi tersebut.
Di lansir dari Wall Street Journal, Alex Lawrence seorang profesor penjualan profesional di Weber State University Utah - AS, dalam kursus penjualan teknolgi memperbolehkan siswa untuk menggunakan ChatGPT dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. dirinya berharap untuk bekerja sama dengan layanan kecerdasan buatan untuk memungkinkan siswa dalam merangkul teknologi baru. dirinya berharap agar alat atapun kecerdasan teknologi dapat senantiasa menginspirasi bagi para siswa, ketimbang mencontek, lebih baik belajar mengunakan teknologi ini.
ChatGPT dapat membantu siswa, tapi akan sangat bergantung kepada setiap pengguna untuk dapat mendapatkan nilai akhir yang lebih tinggi, nyatanya ChatGPT bukanlah sebuah obat mujarab yang dapat memberikan jaminan 100%, bahkan OpenAI dalam laman resminya juga mengakui bahwa AI memiliki tendensi menghasilkan informasi yang tampak masuk akal namun sebenarnya adalah hal yang salah ataupun tidak masuk akal.
Kembali kepada pengunanya, apabila tujuan siswa dalam menggunakan ChatGPT hanya untuk menipu, maka dirinya hanya menghemat waktu, uang dan tenaga untuk tidak belajar apapun. namun apabila ChatGPT di gunakan sebagai sebuah alat bantu dalam meningkatkan produktivitas, seperti tata bahasa, menyempurkan kalimat atau sebagai mitra kelas, tukar pikiran, ide, ataupun penyempurnaan dari implementasi sebuah ide. peluang-peluang diatas adalah bukti konkret bahwa teknologi dapat membantu manusia dalam sebuah metode pembelajaran yang lebih optimal.
Dengan munculnya berbagai inovasi yang muncul, semakin banyak pekerjaan manusia yang dapat di gantikan dengan kecerdasan buatan, dan beberapa tugas yang sudah tidak membutuhkan manusia lagi. dimana para pekerja dapat memfokuskan waktunya kedalam hal yang lebih produktif lagi. oleh karena itu, jika siswa dapat mengenal alat kecerdasan buatan sejak dini, maka ini dapat berkontribusi kepada sang siswa dalam membantu pengembangan karir dan pilihan karir di masa mendatang. dimana pernyataan dari Mollick tentu sangat kompeten : “ esensi manusia tidak akan berubah karena ChatGPT, yang benar-benar akan berubah adalah kemampuan manusianya”.
~ Lapangan pekerjaan baru dengan gaji menjanjikan, Microsoft dan Google siap gelar kelas AI.
Bukan sekedar film Sci-fi terbaru atau tema dalam komik rilisan terbaru, akan tetapi robot obrolan ChatGPT yang menjadi topik trending mempercepat perang AI antar platform. tidak hanya Google yang pada tanggal 6 Febuari lalu yang sempat merilis robot obrolan “ BARD” untuk bergabung dalam lini AI terbaru, akan tetapi di lain sisi Baidu China yang juga turut merilis sebuah pernyataan bahwa akan siap mempresentasikan sebuah produk baru yang mirip dengan ChatGPT bernama Ernie Bot pada maret mendatang.
Lalu bagaimana sikap kita terhadap tren AI ? bagaimana caranya untuk mengikuti terus perkembangan jaman? apakah talenta di bidang AI akan menjadi sebuah sektor incaran baru?
mari kita kupas apa itu AI?
faktanya adalah AI dapat di bagi menjadi 2 bagian yang berbeda, dilansir dari Technews.com yang menjabarkan bahwa AI dapat di bagi menjadi AI yang kuat dan AI yang lemah.
Dalam film Hollywood rilisan AS - Westworld dan robot super canggih lainnya yang terdapat dalam film Sci-fi dapat melakukan apa saja yang dapat di kerjakan oleh seorang manusia, yang memiliki teknologi AI ( Artificial General Intelligence AGI ) yang kuat. meskipun penelitian yang relevan masih di produksi dalam jumlah besar namun pada saat ini akan sangat sukar untuk di capai dalam kurun waktu dekat. sebaliknya, AI yang lemah ( Artificial Narrow Intelligence - ANI ) adalah sebuah teknologi yang sedang booming pada saat ini, karena berfokus pada beberapa bidang tertentu, seperti pengemudi otomatis, speaker pintar, sistem pertanian pintar, DLL.
Bersambung di pekan depan yows..
By Ipung Chandra, RtiInfo pekan ini
~ Yuk belajar AI, Professor AS minta siswa untuk membiasakan diri dengan ChatGPT
Banyak sekolah terkenal di AS, Perancis, dan India sudah secara tegas melarang penggunaan ChatGPT dalam membantu siswa untuk merilis sebuah artikel ataupun tugas sekolah, dengan kenyamanan ini AI menjadi sebuah hal yang sangat kontroversif dalam komunitas akademis.
Namun, beberapa profesor dari berbagai perguruan tinggi dan Universitas Amerika mengambil arah yang berlawanan, bahkan menjadikan AI atau ChatGPT menjadi kurikulum dalam metode pengajaran. mereka percaya bahwa mencari tahu terkait sebuah persoalan dengan menggunakan teknologi AI akan sangat membantu para siswa menjadi lebih kreatif dan lebih mahir dengan alat generatif AI. di lain sisi memang ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa harus ada beberapa penerapan metode yang tepat dalam menerapkan AI demi penuntasan sebuah permasalahan.
Baik dalam menulis sebuah program, atau mengusulkan sebuah makalah, atau menata ulang dan mengedit sebuah artikel agar dapat lebih mudah di baca oleh pihak ke 3, DLL semua ini dapat di lakukan dengan mudah di kerjakan oleh ChatGPT. dengan begitu apakah seorang siswa akan tetap belajar secara patuh dan rajin? tidak sedikit guru sekolah dan tenaga pengajar yang merasa khawatir.
Oleh karena itu, baru-baru ini baik dari Sciences Po sebuah sekolah sains terbaik asal Perancis, atau sekolah umum Seattle - AS, dll yang terdiri dari 100 lebih sekolah dasar, SMP, dan SMA dengan total lebih dari 50.000 pelajar. belum lagi di tambah dengan institusi jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti universitas yang mengkhawatirkan penggunaan ChatGPT bagi siswa, dengan alasan penggunaan Plagiarisme dan pengerjaan PR dari sekolah, dimana ini akan sangat sulit untuk di lacak baik dari pihak sekolah maupun orang tua. maka dari itu hal ini tentu juga akan berimpak kepada efek pembekalan dari sekolah yang di rasa tidak selaras dengan kemudahan teknologi ini.
Tidak belajar ChatGPT, anda tidak dapat mengikuti perkembangan jaman, akan tetapi masih ada beberapa pengajar di kalangan universitas yang menganggap ChatGPT sebagai peluang dan dengan jelas menetapkan bahwa ChatGPT adalah sebuah metode pembelajaran yang sangat tepat untuk di gunakan para siswa seusai jam sekolah, misal diskusi kelas, meningkatkan kemampuan seorang siswa dalam menggunakan AI untuk mencari solusi terbaru DLL.
Menurut sebuah laporan oleh Radio Publik Nasional AS, Ethan Mollick seorang profesor asal departemen Manajemen di Wharton School of the University of Pennsylvania AS, dalam kelasnya “ Kewirausahaan dan Inovasi “ alih-alih melarang menggunakan ChatGPT, dirinya malah meminta siswa untuk menggunakannya dan berteman baik dengan ChatGPT.
Permintaan ini sudah menjadi kurikulum pengajarannya, bahwa silabus dalam penggunaan layanan kecerdasan buatan telah menjadi keterampilan yang baru, namun dirinya juga tetap mengingatkan para siswanya bahwa ChatGPT juga bisa salah. sebagai seorang siswa harus memastikan hasilnya sendiri serta mengecek ulang keabsahan sebuah informasi dari sumber lainnya, apabila terdapat kesalahan ataupun kekurangan para penulis akan bertanggung jawab penuh atas tulisan yang di rilis, dimana kode etik akademisi masih tetap harus di praktekkan dengan cara membubuhkan setiap tulisan yang terlampir harus secara jelas menjabarkan sumber dari pengambilan informasi tersebut.
Di lansir dari Wall Street Journal, Alex Lawrence seorang profesor penjualan profesional di Weber State University Utah - AS, dalam kursus penjualan teknolgi memperbolehkan siswa untuk menggunakan ChatGPT dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. dirinya berharap untuk bekerja sama dengan layanan kecerdasan buatan untuk memungkinkan siswa dalam merangkul teknologi baru. dirinya berharap agar alat atapun kecerdasan teknologi dapat senantiasa menginspirasi bagi para siswa, ketimbang mencontek, lebih baik belajar mengunakan teknologi ini.
ChatGPT dapat membantu siswa, tapi akan sangat bergantung kepada setiap pengguna untuk dapat mendapatkan nilai akhir yang lebih tinggi, nyatanya ChatGPT bukanlah sebuah obat mujarab yang dapat memberikan jaminan 100%, bahkan OpenAI dalam laman resminya juga mengakui bahwa AI memiliki tendensi menghasilkan informasi yang tampak masuk akal namun sebenarnya adalah hal yang salah ataupun tidak masuk akal.
Kembali kepada pengunanya, apabila tujuan siswa dalam menggunakan ChatGPT hanya untuk menipu, maka dirinya hanya menghemat waktu, uang dan tenaga untuk tidak belajar apapun. namun apabila ChatGPT di gunakan sebagai sebuah alat bantu dalam meningkatkan produktivitas, seperti tata bahasa, menyempurkan kalimat atau sebagai mitra kelas, tukar pikiran, ide, ataupun penyempurnaan dari implementasi sebuah ide. peluang-peluang diatas adalah bukti konkret bahwa teknologi dapat membantu manusia dalam sebuah metode pembelajaran yang lebih optimal.
Dengan munculnya berbagai inovasi yang muncul, semakin banyak pekerjaan manusia yang dapat di gantikan dengan kecerdasan buatan, dan beberapa tugas yang sudah tidak membutuhkan manusia lagi. dimana para pekerja dapat memfokuskan waktunya kedalam hal yang lebih produktif lagi. oleh karena itu, jika siswa dapat mengenal alat kecerdasan buatan sejak dini, maka ini dapat berkontribusi kepada sang siswa dalam membantu pengembangan karir dan pilihan karir di masa mendatang. dimana pernyataan dari Mollick tentu sangat kompeten : “ esensi manusia tidak akan berubah karena ChatGPT, yang benar-benar akan berubah adalah kemampuan manusianya”.
~ Lapangan pekerjaan baru dengan gaji menjanjikan, Microsoft dan Google siap gelar kelas AI.
Bukan sekedar film Sci-fi terbaru atau tema dalam komik rilisan terbaru, akan tetapi robot obrolan ChatGPT yang menjadi topik trending mempercepat perang AI antar platform. tidak hanya Google yang pada tanggal 6 Febuari lalu yang sempat merilis robot obrolan “ BARD” untuk bergabung dalam lini AI terbaru, akan tetapi di lain sisi Baidu China yang juga turut merilis sebuah pernyataan bahwa akan siap mempresentasikan sebuah produk baru yang mirip dengan ChatGPT bernama Ernie Bot pada maret mendatang.
Lalu bagaimana sikap kita terhadap tren AI ? bagaimana caranya untuk mengikuti terus perkembangan jaman? apakah talenta di bidang AI akan menjadi sebuah sektor incaran baru?
mari kita kupas apa itu AI?
faktanya adalah AI dapat di bagi menjadi 2 bagian yang berbeda, dilansir dari Technews.com yang menjabarkan bahwa AI dapat di bagi menjadi AI yang kuat dan AI yang lemah.
Dalam film Hollywood rilisan AS - Westworld dan robot super canggih lainnya yang terdapat dalam film Sci-fi dapat melakukan apa saja yang dapat di kerjakan oleh seorang manusia, yang memiliki teknologi AI ( Artificial General Intelligence AGI ) yang kuat. meskipun penelitian yang relevan masih di produksi dalam jumlah besar namun pada saat ini akan sangat sukar untuk di capai dalam kurun waktu dekat. sebaliknya, AI yang lemah ( Artificial Narrow Intelligence - ANI ) adalah sebuah teknologi yang sedang booming pada saat ini, karena berfokus pada beberapa bidang tertentu, seperti pengemudi otomatis, speaker pintar, sistem pertanian pintar, DLL.
Bersambung di pekan depan yows..