Menjadi paham bahwa setiap perjalanan tak terlepas dari rasa sakit hati yang sering kali berganti. Dari mulai keluarga, pertemanan, pekerjaan, pendidikan, hingga pasangan. Luka dari mereka membuat dunia seperti arena pertandingan, kompetisi yang tak ada sudahnya, yang membuat manusia keluar dari fitrahnya. Manusia yang dibuat karena cinta, dan dirawat dalam kandungan karena cinta tapi bagaimana bisa terlahir ke dunia gagal dalam memaknai arti cinta. Apakah Sang Maha Cinta begitu tak berarti hingga manusia harus memaknai sendiri arti cinta?