Mencintai Ilmu Agama adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 06 Rabi’ul Akhir 1443 H / 11 November 2021 M.
Kajian sebelumnya: Ilmu Adalah Kehidupan Bagi Ruh
Ceramah Agama Islam Tentang Mencintai Ilmu Agama
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu berkata bahwa mencintai ilmu agama atau mencintai orang yang berilmu merupakan ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para Nabi ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Dan orang-orang yang berilmu adalah ahli waris para Nabi. Dikatakan ‘perwaris para Nabi’ menunjukkan dekatnya kedudukan mereka dari para Nabi dan Rasul. Dalam artian tingkatan setelah para Nabi dan para Rasul adalah orang-orang yang mengambil ilmu mereka dan menyebarkannya di kalangan manusia.
Karena ilmu adalah warisan para Nabi, maka mencintai ilmu dan orang-orang yang berilmu berarti mencintai warisan para Nabi dan ahli waris mereka. Sebagaimana membenci ilmu dan membenci orang-orang yang berilmu berarti membenci warisan para Nabi dan ahli waris mereka.
Makanya kita mengetahui bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang paling afdhal. Bahkan sudah pernah kita nukilkan penjelasan dari Imam Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullahu Ta’ala yang menyebutkan bahwa kebanyakan dari para ulama Salaf menegaskan hal ini:
طلب العلم أفضل من نوافل العبادات
“Menuntut ilmu keutamaannya/pahalanya lebih utama dibandingkan amalan-amalan ibadah yang sunnah.”
Makanya ilmu ini berhubungan dengan ibadah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita ingat di dalam Islam bahwa mencintai hal-hal yang berhubungan dengan agama adalah ibadah dan keutamaan yang besar. Sebagaimana juga membenci atau memperolok-olok/melecehkan/meremehkan hal-hal yang berhubungan dengan agama bukan hanya dosa besar, tapi bisa membawa kepada kekufuran. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
…قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ…
“Katakanlah, ‘Apakah terhadap Allah, terhadap ayat-ayatNya dan terhadap RasulNya kalian berani memperolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kufur setelah beriman…” (QS. At-Taubah[9]: 65)
Maka sebagian dari para ulama menjelaskan bahwa termasuk didalamnya adalah membenci orang yang berilmu atau seorang ulama ‘Ahlus Sunnah karena ilmu yang dibawanya dan karena sikap berpegang teguhnya yang kuat terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Membenci seorang ulama karena ilmu yang dibawanya atau karena sunnah yang dipegang teguhnya bisa menjadi sebab kekufuran.
Mencintai ilmu adalah tanda kebaikan
Kata Ibnul Qayyim selanjutnya bahwa mencintai ilmu merupakan tanda-tanda kebaikan. Karena mencintai ilmu berarti kita mencintai petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, menjelaskan tentang cara beriman yang benar, mengenal aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para shahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in. Kalau tujuannya mulia, berarti mencintai sarana untuk yang membawa kepada kemuliaan tersebut termasuk bagian dari mencintai kemuliaan tersebut dan termasuk bagian dari ibadah yang agung.