Mengawal Perkembangan Psikologi Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 12 Safar 1445 H / 29 Agustus 2023 M.
Kajian Tentang Mengawal Perkembangan Psikologi Remaja
Perkembangan psikologi pada usia remaja tampak pada kemampuan mereka dalam mengungkapkan emosi positif dan negatif, yaitu perasaan gembira dan sedih dengan sangat jelas. Namun, pada anak-anak yang memiliki kelainan seperti autisme, kemampuan ini mungkin tidak terlihat. Beberapa mungkin tidak bisa mengungkapkan perasaan gembira dan sedih, serta tidak bisa membedakan antara keduanya.
Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan perkembangan anak-anak dalam hal kemampuannya mengungkapkan emosi positif dan negatif.
Pada usia remaja, anak-anak cenderung menyukai kebebasan karena mereka merasa lebih dewasa. Munculnya kepercayaan diri juga seiring dengan peningkatan kekuatan fisik dan akal. Hal ini terlihat ketika mereka berusaha untuk melakukan aktivitas sendiri, karena mereka merasa sudah cukup besar dan dewasa. Namun, pada saat yang sama, karena remaja masih labil dan sedang mencari jati diri, mereka suka mengabaikan nasihat orang tuanya. Dan terkadang muncul sikap egois karena kepercayaan diri yang berlebihan. Hal ini adalah hal yang wajar terjadi pada manusia, terutama pada usia remaja. Maka kadang-kadang dia merasa punya pendapat dan pandangan sendiri.
Maka para orang tua tidak perlu terkejut dan merasa ini satu sikap penentangan dan lain sebagainya. Artinya, mereka sampai pada usia mau berargumentasi. Lain halnya anak-anak yang mungkin tidak terfikirkan dalam benak mereka untuk adu argumentasi. Tapi anak remaja sudah mulai berani menyatakan pendapat dan beradu argumentasi. Ini adalah suatu yang wajar pada anak remaja.
Hanya saja orang tua yang harus mengerti. Ketika dia mengacuhkan kata-kata kita, itu artinya dia perlu argumentasi yang lebih detail, lebih kuat, lebih jelas, sehingga bisa diterima oleh akalnya. Karena dia bukan anak-anak lagi yang diberitahu kemudian terima.
Maka para orang tua, ketika menghadapi anak-anak remaja, mereka harus siap dengan argumentasi.
Kata-kata yang paling tidak disukai oleh anak-anak remaja adalah “pokoknya…”. Kadang-kadang, sebagian orang tua tidak mampu berargumentasi kepada anak-anak remajanya. Di sinilah para orang tua harus menyiapkan diri untuk bisa memberikan argumentasi.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan menyampaikan argumentasi semenjak anak masih kanak-kanak. Misalnya kepada Al-Hasan bin Ali ketika melarang beliau memakan kurma zakat, Nabi menjelaskan argumentasinya, “Karena kita keluarga Muhammad tidak halal memakan harta zakat.” Ini satu contoh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ketika menghadapi remaja, kita tidak bisa beranggapan bahwa “Saya ini orang tua, dia anak saya, dia harus terima dan kata-kata saya.”
Orang tua perlu memberikan argumentasi kepada anak remaja, karena akalnya sudah semakin matang, dia tidak bisa terima begitu saja kata-kata kita. Dan kadang-kadang itu kita nilai sebagai suatu penolakan. Padahal sebenarnya tidak harus kita artikan seperti itu. Sebagian remaja kita lihat tidak langsung menerima perkataan orang tuanya, bukan berarti menolak. Tapi dia butuh diyakinkan dengan argumentasi dan alasan-alasan kita.