Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 14 Safar 1445 H / 31 Agustus 2023 M.
Ceramah Agama Islam Tentang Mengenal Allah dengan Pengenalan Yang Khusus
Mengenal Allah ada dua macamnya:
Mengenal Allah Secara Fitrah
Yang pertama yaitu mengenal yang sifatnya sekedar menetapkan Allah adalah pencipta, sekedar mengakui rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta. Ini adalah pengenalan terhadap Allah yang semua manusia mengakuinya (baik yang taat maupun durhaka, baik yang shalih maupun tidak shalih, mukmin maupun kafir).
Ini yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ …
“Kalau kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan diri-diri mereka?’, mereka akan mengatakan: ‘Allah’…” (QS. Az-Zukhruf[43]: 87)
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ…
“Kalau kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’, mereka akan mengatakan: ‘Allah”…” (QS. Az-Zumar[39]: 38)
Sampai para ulama menjelaskan sewaktu Fira’un mengaku sebagai Tuhan, pengakuan ini bukan bersumber dari hatinya. Karena dalam hatinya dia mengakui tentang penciptaan dan pengaturan alam semesta ini hanya satu-satunya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ…
“Mereka menolak (bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Kuasa melakukan pengaturan alam semesta) padahal jiwa-jiwa mereka meyakininya, ini karena kedzaliman dan kesombongan…” (QS. An-Naml[27]: 14)
Makanya pengetahuan yang ini belum cukup. Karena ini adalah fitrah dalam hati manusia. Dari sinilah para ulama menjelaskan bahwa ketika menafsirkan kalimat Laa Ilaaha Illallah yang benar maknanya adalah “Tidak ada yang disembah dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Kalau diartikan “Tidak ada Tuhan (pencipta/pengatur alam semesta/yang mematikan/menghidupkan/pemberi rezeki) selain Allah.” Ini meskipun benar secara asal maknanya, tetapi ini bukanlah makna Laa Ilaaha Illallah. Karena setelah kita menetapkan tidak ada pencipta/pelindung/pengatur/pemberi rezeki, harusnya mengandung konsekuensi setelah itu kita beribadah kepada Allah semata-mata, tidak menyembah/menggantungkan diri/bersandar/meminta dan semua ibadah lahir dan batin kecuali hanya kepada Allah.
Makna (Tidak ada Tuhan selain Allah) bukan berarti disalahkan dari segi maknanya, tapi tidak cukup hanya mengakui rububiyah Allah. Karena ini diakui oleh orang-orang musyrik, namun ternyata hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Yang mereka ingkari menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata.