Mengerjakan Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 13 Jumadil Akhir 1442 H / 27 Januari 2021 M.
Kajian Tentang Mengerjakan Konsekuensi Laa Ilaaha Illallah
Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membaca surah Al-Isra’ ayat 57 beserta penjelasannya. Ini menunjukkan kepada hakikat tauhid, yaitu menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang diibadahi. Karena orang-orang yang diagungkan oleh manusia dari para Nabi, Rasul, Malaikat dan orang-orang shalih, mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pada pertemuan yang sebelumnya juga kita sudah membaca dalil yang kedua, yaitu surah Az-Zukhruf ayat 26-28. Ayat ini menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang berlepas diri dari bapak dan kaumnya yang mensyirikkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hubungan dalil yang kedua dengan tafsir tauhid dan syahadat adalah ketika Nabi Ibrahim berkata:
… إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ
“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian ibadahi.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 26)
Di dalam ayat ini terdapat pembatalan seluruh tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bahwasanya tuhan-tuhan tersebut tidak dapat diibadahi, hanya Allah yang berhak untuk diibadahi.
Dan inti pendalilan dari ayat-ayat tersebut adalah ketika Nabi Ibrahim berkata:
إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي…
“Kecuali yang telah menciptakan aku…” (QS. Az-Zukhruf[43]: 27)
Ini menunjukkan syahadat Laa Ilaaha Illallah dan tafsiran tauhid. Yaitu menetapkan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jadi surah Az-Zukhruf 26 dan 27 adalah menggabungkan dua rukun tauhid, itulah makna Laa Ilaaha Illallah. Yaitu peniadaan tuhan selain Allah dan penetapan hanya Allah yang paling berhak untuk diibadahi.
Dalil yang ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ…
“Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala…” (QS. At-Taubah[9]: 31)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ…
“Dan dari manusia ada yang menjadikan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sekutu-sekutu, ia mencintai sekutu-sekutu tersebut sebagaimana ia mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)
Maka setiap yang menjadikan sekutu untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia berdoa kepada sekutu tersebut (tidak kepada Allah), ia berharap kepada sekutu tersebut, ia menginginkan sekutu tersebut untuk apa yang ia harapkan dari tergapainya hajat-hajat dan terlepasnya kesulitan-kesulitannya, seperti keadaan orang-orang yang menyembah kuburan dan para thaghut dan berhala selain Allah, maka wajib baginya untuk mengagungkan dan mencintai mereka karena hal tersebut. Maka mereka ini mencintai sekutu-sekutu bersamaan mereka mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meskipun mereka mencintai Allah dan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mereka shalat dan puasa, tetap saja orang yang seperti ini telah mensyirikkan Allah didalam kecintaan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan mereka telah mensyirikkan Allah karena beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saat mereka menjadikan sekutu-sekutu, mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut seperti kecintaan mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala,