Mengingkari Kemungkaran Adalah Konsekuensi Iman merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 26 Dzul Qa’dah 1443 H / 26 Juni 2022 M.
Kajian sebelumnya: Rasa Malu Semuanya Baik
Kajian Hadits Mengingkari Kemungkaran Adalah Konsekuensi Iman
Kita masih di bab termasuk iman adalah mengingkari yang mungkar dengan tangan, lisan dan hati.
Hadits nomor 35:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ “مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ”. قَالَ أَبُو رَافِعٍ فَحَدَّثْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ فَأَنْكَرَهُ عَلَيَّ فَقَدِمَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَنَزَلَ (بِقَنَاةَ) فَاسْتَتْبَعَنِي إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَعُودُهُ فحدّثت عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَانْطَلَقْتُ مَعَهُ فَلَمَّا جَلَسْنَا سَأَلْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَحَدَّثَنِيهِ كَمَا حَدَّثْتُ ابْنَ عُمَرَ.
Dari Abdullah bin Mas’ud -semoga Allah meridhainya- bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun yang Allah utus pada umat sebelumku kecuali ia memiliki para pembela dan sahabat dari umatnya. Dimana mereka memegang sunnah Nabi tersebut dan mereka mengikuti perintahnya. Kemudian sesungguhnya datang setelah mereka sebuah generasi-generasi yang mengucapkan apa yang mereka tidak lakukan (ulama su’) dan melakukan apa-apa yang tidak diperintahkan (bid’ah).
Maka siapa yang menjihadi (mengingkari) mereka dengan tangannya maka dia mukmin, dan siapa yang menjihadi mereka dengan lisannya maka ia mukmin, dan siapa yang menjihadi mereka dengan hatinya maka ia mukmin. Dan tidak ada setelah itu dari keimanan sebesar biji sawi pun juga.”
Berkata Abu Rafi’: “Lalu menyampaikan hadits ini kepada Abdullah bin Umar, namun beliau mengingkarinya. Datanglah Abdullah bin Mas’ud lalu singgah Qanah. Abdullah bin Umar meminta kepadaku untuk ikut menjenguknya dan aku pun menyampaikan kepada Abdullah bin Umar tentang hadits tersebut, lalu aku pun pergi bersamanya. Ketika kami duduk aku bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang hadits tersebut, muka kemudian Abdullah bin Mas’ud pun menyampaikan kepadaku hadits seperti yang aku sampaikan kepada Abdullah bin Umar.” (HR. Muslim)
Pembela Nabi
Setiap Nabi Allah jadikan untuk mereka para sahabat dan para pembela. Namun kata para ulama ini dibawa kepada kebanyakannya demikian. Karena seakan-akan ada hadits yang bertabrakan dengan hadits ini, yaitu disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النبيَّ ومعهُ الرُّهَيْطُ، والنبيَّ ومعهُ الرَّجُلُ والرَّجُلانِ، والنبيَّ ليسَ معهُ أحَدٌ
“Diperlihatkan kepadaku umat-umat pada hari kiamat dan ternyata aku melihat ada seorang Nabi yang diikuti oleh suatu kaum, ada lagi Nabi yang diikuti oleh satu atau dua orang saja, dan ada lagi Nabi yang tidak punya pengikut sama sekali.” (HR. Muslim)
Seakan-akan dua hadits ini bertabrakan.