Mentahnik dan Mendoakan Bayi merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1443 H / 22 November 2021 M.
Kajian Tentang Mentahnik dan Mendoakan Bayi
Siapa yang tidak ingin anaknya tumbuh dengan penuh kesehatan? Semua orang tua saya yakin ingin anaknya sehat. Ketika anak sakit tentu pikiran kita akan terbebani, aktivitas akan terganggu, konsentrasi pun juga demikian. Sehingga untuk mencapai kesehatan anak, banyak hal yang dilakukan oleh para orang tua.
Banyak di antara mereka tidak peduli dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Katanya “uang bisa dicari”. Tentu selama itu masih dalam batas proporsional maka tidak masalah. Tapi yang berbahaya adalah ketika cara-cara yang dilakukan sudah menyerempet ajaran agama, bahkan bertentangan dengan tuntunan Islam.
Contohnya beberapa tahun yang lalu muncul sebuah fenomena anak-anak kecil dipakaikan gelang yang warna-warni bernama sambetan. Ada di antara orang tua yang memakaikan gelang itu dengan sebuah keyakinan bahwa gelang itu akan melindungi anak dari gangguan-gangguan yang bersifat mistis.
Sejatinya memakai gelang-gelang seperti itu dengan tujuan untuk menolak bala diistilahkan dengan jimat. Dan Islam agama yang sangat anti dengan hal-hal yang seperti. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang memakai jimat, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Terkadang, upaya yang dilakukan oleh sebagian orang tua guna melindungi anaknya ternyata tidak dibenarkan oleh agama. Padahal sebenarnya Islam sudah punya konsep yang sangat istimewa untuk menjaga kesehatan anak. Yaitu konsep yang menggabungkan antara cara lahiriyah dengan batiniyah, menggabungkan antara ikhtiar dengan doa.
Sejak bayi lahir, kita langsung diajarkan oleh Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dua hal, yaitu tahnik dan doa. Sunnah tahnik dan doa disebutkan di dalam banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Salah satunya adalah hadits yang dituturkan oleh seorang sahabat Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya:
وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ
“Anakku baru lahir. Saya bergegas membawa anakku menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamainya Ibrahim, beliau mentahniknya dengan kurma dan mendoakannya keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mentahnik Bayi
Menit ke- Tahnik adalah mengunyah sebutir kurma sampai lembut dan halus kemudian mengoleskan kunyahan kurma itu sedikit ke langit-langit mulut si bayi dengan tangan yang bersih dan steril. Kalau tidak ada kurma maka bisa digantikan dengan sesuatu yang manis, misalnya madu.
Hukum mentahnik bayi adalah sunnah menurut banyak ulama. Sehingga jika dikerjakan insyaAllah mendapatkan pahala.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak secara gamblang menjelaskan apa manfaat kesehatan dari tahnik itu. Tapi tentunya perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan wahyu dari Allah.
Para pakar kesehatan menemukan bahwa ada manfaatnya secara kesehatan. Dan ketika kita mengetahui bahwa ini ada manfaatnya secara kesehatan, maka ini semakin membuat kita yakin inilah yang terbaik.
Para ilmuwan mengatakan bahwa bayi yang baru lahir memiliki kadar gula yang rendah. Semakin kecil bobot atau ukuran bayi, maka semakin rendah pula kadar gula yang ada di ...