Merasa Diawasi Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 30 Sya’ban 1445 H / 11 Maret 2024 M.
Kajian Islam Ilmiah Tentang Merasa Diawasi Allah
Ibnu Hibban Rahimahullah meriwayatkan dalam shahihnya juga Adh Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Kitab Al-Mukhtarah, dari sahabat Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
مَا كَرِهَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا، فَلَا تَفْعَلْهُ إِذَا خَلَوْتَ
“Apa yang Allah benci darimu, maka janganlah engkau lakukan ketika engkau sendirian.” (HR. Ibnu Hibban)
Ini adalah peringatan bagi seorang hamba agar ia selalu memperbaiki apa yang ia sembunyikan dengan cara selalu bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengerjakan semua yang diperintahkan dan menjauhi semua yang dilarang, terutama yaitu meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah ‘Azza wa Jalla ketika ia sedang sendirian. Sebagaimana perkataan seorang penyair,
إِذا ما خَلَوتَ الدَهرَ يَوماً فَلا تَقُل · خَلَوتُ وَلَكِن قُل عَلَيَّ رَقيبُ…
“Jika engkau sedang berada dalam kesendirian pada suatu hari, janganlah engkau mengatakan, ‘Aku sedang sendirian,’ tapi katakanlah: ‘bahwasannya ada pengawas yang mengawasiku.’ Janganlah sekali-kali engkau menyangka bahwasannya Allah lalai sesaat pun dan bahwasannya apa yang engkau sembunyikan itu tidak dilihat olehNya.”
Dan inilah pengingat terbesar bagi seorang hamba. Penghalang terbesar bagi seorang hamba yaitu pengetahuannya dan keyakinannya bahwa Allah selalu melihatnya, bahwa Allah selalu mengetahui apa yang ia kerjakan, Allah selalu melihat apa yang ia lakukan.
Maka apabila hatinya mengajaknya untuk satu dosa dan ia berada di kesendirian, tidak ada seorang pun dari manusia, ia mengingatkan dirinya, bahwa Tuhan manusia selalu melihatnya, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah ‘Azza wa Jalla.
Berkata Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah, para ulama bersepakat bahwa pengingat terbesar dan penghalang terbesar bagi seorang hamba yang turun dari langit ke bumi adalah pengetahuannya, bahwasanya Allah Maha Melihat. Dan para ulama menyebut satu permisalan, dan bagi Allah permisalan dan sifat yang paling tinggi, mereka mengatakan bahwa seandainya dikatakan bahwa tempat yang luas ini ada raja yang sangat kuat, perkasa, kejam, di sekitarnya ada tentara-tentaranya, dan di sekitar raja ini ada putri-putrinya, ada istri-istrinya, dan ada budak-budak wanitanya. Apakah terbetik di kepala seorang yang hadir di tempat itu untuk membuat pelanggaran kepada wanita-wanita yang ada di situ?
Atau jika dikatakan bagi penduduk suatu Negeri, bahwasanya pemimpin Negeri tersebut mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan di malam hari, maka pasti semuanya tidak akan berani melakukan apa-apa.
Bandingkan dengan Pencipta langit dan bumi, Allah yang Maha Perkasa, yang mengabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yang hampir tidak kita dapati satu halaman pun dari halaman Al-Qur’anul Karim kecuali kita dapatkan pengingat dan penghalang terb...