Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A pada Rabu, 26 Rajab 1445 H / 7 Februari 2024 M.
Kajian Islam Mukaddimah Kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin
Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan tentang hadits Jibril: “Ketahuilah bahwa hadits Jibril ini mengandung berbagai macam ilmu, pengetahuan, adab-adab, dan petikan-petikan hikmah. Bahkan, hadits ini adalah pokok agama Islam, sebagaimana yang telah kami nukil dari Al-Qadhi ‘Iyad.
Imam Al-Qurtubi Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Hadits Jibril ini pantas untuk diberi julukan “Ummu Sunnah (induk sunnah)” karena mengandung secara global apa yang dikandung dalam sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Imam Ibnu Rajab Rahimahullah menyebutkan: “Hadits Jibril ini adalah hadits agung yang mengandung penjelasan agama secara umum. Makanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhir hadits ini mengatakan: ‘Ini adalah malaikat Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian agama kalian.'”
Maka kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga kita semua bisa benar-benar mempelajari, memahami dan mengamalkan kandungan hadits ini.
Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya dengan sanadnya dari Yahya bin Ya’mur, dia berkata, “Orang pertama yang mengadakan penyimpangan bahwasannya tidak ada takdir adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, Irak. Aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Humairi pernah pergi untuk berangkat haji atau umroh, kami berkata, ‘Kalau kita bertemu dengan salah satu dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kita perlu bertanya kepada mereka tentang takdir.’ Kami beruntung bertemu dengan Abdullah bin Umar bin al-Khaththab yang sedang masuk ke masjid. Kami mendekatinya, saya di sebelah kanan dan sahabat saya di sebelah kiri. Aku menyangka temanku mempersilahkan aku untuk berbicara, maka aku berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama, akan tetapi mereka mengatakan bahwa tidak ada takdir, dan bahwa segala sesuatu itu baru terjadi (tidak dikehendaki dan tidak diciptakan).’
Maka Abdullah bin ‘Umar menjawab, ‘Jika engkau kembali dan bertemu dengan mereka, maka sampaikanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku. Demi Allah yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah, seandainya mereka mempunyai emas sebanyak gunung Uhud dan menginfakkan semuanya di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya sampai beriman kepada takdir.'”
Lalu Abdullah bin ‘Umar melanjutkan, “Ayahku Umar bin al-Khaththab menceritakan kepadaku, ‘Ketika kami berada di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu hari, tiba-tiba muncul seorang yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Sampai dia mendekat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di paha. Dia bertanya, ‘Wahai Muhammad,