Hampir dalam keseluruhan hidup, kita nggak bisa netral. Kita harus memilih cenderung pada kebaikan atau keburukan, berbuat taat atau maksiat, yang jelas tidak ada tempat netral antara surga dan neraka.
Menjadi atheis bukan berarti netral, tapi cenderung tidak beragama. Tanah saja tidak bisa netral. Bila ia tidak ditanami bunga, maka ia akan dipenuhi rumput liar. Manusia pun sama, bila dia tidak membiasakan diri sibuk dengan kebaikan, maka ia akan disibukkan dengan keburukan. Tidak ada yang netral.
Pertanyaannya, kemana keberpihakan kita? Karena tiap waktu sejatinya adalah pilihan. Bila kita memilih mengikuti wahyu, artinya kita menundukkan nafsu. Bila kita tidak ikuti wahyu, maka pastilah nafsu yang menguasai kita.