Radio Rodja 756 AM

Niat Ketika Seorang Muslim Mencari Harta


Listen Later

Niat Ketika Seorang Muslim Mencari Harta ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 29 Safar 1444 H / 26 September 2022 M.

Kajian Tentang Niat Ketika Seorang Muslim Mencari Harta
Kita masih berbicara seputar kekeliruan sebagian orang dalam memandang harta. Ada yang berlebihan hingga menjadi budak harta, dan ada juga yang mengambil sikap yang ekstrem pula terhadap harta, yaitu merasa tidak memerlukan harta dan cenderung meninggalkannya sama sekali.
Tentunya Ahlus Sunnah wal Jamaah ataupun salaf (sahabat dan para ulama-ulama yang datang sesudah mereka), mereka bersikap tengah didalam bab harta ini. Juga kita melihat dari sabda-sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berisi larangan untuk menyia-nyiakan. Seperti misalnya dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, Nabi pernah berkata kepadanya:
لأن تترك ورثتك أغنياء خير لك من أن تتركهم عالة يتكففون الناس
“Sesungguhnya engkau meninggalkan keluargamu dalam kondisi berkecukupan lebih baik bagimu daripada meninggalkan mereka dalam kondisi fakir (kekurangan) sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada orang lain.”
Artinya harta itu memang kita perlukan juga untuk menopang kehidupan kita, untuk menegakkan punggung kita, dan untuk mencegah kita dari bergantung/bersandar kepada orang lain hingga jatuh dalam kehinaan mengemis kepada manusia.
Maka kita diperintahkan untuk mencari harta. Namun di dalam syariat kita diwajibkan untuk mencarinya dengan cara yang halal. Naluri mencari rezeki itu adalah naluri yang Allah tanamkan kepada semua makhluk hidup, sampai hewan sekalipun. Coba lihat hewan, tidak ada hewan yang meminta-minta kepada hewan lainnya. Mereka berusaha untuk mencari rezeki untuk diri mereka sendiri. Burung keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki, bukan minta rezeki kepada burung yang lainnya. Artinya naluri itu ada pada semua makhluk hidup, termasuk manusia.
Maka kita pun mencari rezeki yang notabene itu adalah harta untuk kecukupan hidup kita. Maka Nabi mengatakan: “Kamu tinggalkan keluargamu dalam keadaan berkecukupan (bukan berlebihan), itu lebih baik daripada kamu tinggalkan mereka dalam kondisi fakir, kekurangan, dan terpaksa mengharap bantuan dan pertolongan orang lain.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Nabi melarang pekerjaan meminta-minta. Itu bukanlah pekerjaan yang dibenarkan, bahkan dilarang. Dan Nabi juga pernah berkata:
ما نفَعني مالٌ كمالِ أبي بكرٍ
“Tidak ada harta yang memberi manfaat bagiku seperti harta Abu Bakar.”
Yaitu yang dikeluarkan Abu Bakar untuk membantu dakwah dan perjuangan Nabi di dalam menyiarkan agama. Itu adalah harta yang membawa manfaat bagi pemiliknya di dunia dan di akhirat. Dan juga bermanfaat bagi orang lain. Itulah sebaik-baik harta yang besar manfaatnya. Semakin besar manfaat sebuah harta maka semakin besar juga berkah/manfaatnya bagi pemiliknya.
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-Ash, ia bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim utusan kepadaku untuk menyampaikan pesan. Pesannya adalah:
خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاحَكَ ثُمَّ ائْتِنِي
“Ambillah pakaian dan senjatamu lalu datanglah padaku.”
Maka aku pun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau berkata:
إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمُكَ اللَّهُ وَيُغْنِمُكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً
“Aku ingin mengutusmu untuk bisa memimpin pasukan, hingga Allah memberikan kamu kemenangan,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AMBy Radio Rodja 756AM

  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1
  • 4.1

4.1

7 ratings