
Sign up to save your podcasts
Or


Pagi yang indah seindah kehidupan orang beriman.
"Ayah bunda, ingin anak seperti apa? Jawab dalam lubuk hati terdalam ayah bunda. Bukan jawaban lisan yang klise. Bukan jawaban manis di bibir namun hampa makna." Pertanyaan senada ini pernah saya ajukan dalam suatu forum. Saya kaget, ternyata tak ada satupun kalimat terucap dari hati ayah bunda yang hadir. Mari renungkan!
Profesional muda, mari kita introspeksi diri. Seberapa kuat spritual power yang kita miliki? Karya dan kreasi apa yang telah dan akan kita bangun darinya di dunia ini? Bila kita belum menemukan jawabnya, sadarilah iman kita, Islam kita dan spritualitas yang lahir dari keduanya memiliki kekuatan yang sama dengan apa yang dimiliki Sultan Al Fatih.
Yang menjadi pertanyaan kita, mengapa cerita sukses secara finansial sering disertai kegagalan dalam banyak hal ? Sukses secara ekonomi tidak menjamin sukses secara emosional, sosial dan juga spritual. Bahkan teramat sering terjadi, materi dan ketenaran yang diraih berakhir dengan penderitaan batin, rusaknya hubungan dengan orang-orang terdekat dan juga kehampaan secara spritual.
Mungkin kita juga layak khawatir, jangan-jangan anak tangga kesuksesan yang kita tapaki hari ini ternyata akan menghantarkan kita pada jurang kehancuran kehidupan pribadi seperti mereka.
Bila kita punya impian lalu menemui kegagalan, lantas apakah kita perlu mervisi impian kita?
Bayangkan bila anda menjadi manusia global yang super sukses. Malam hari anda makan lesehan di Malioboro, Yogyakarta. Keesokan harinya anda sudah terlihat berjalan di Orchard Street, Singapura. Sorenya anda mengikuti meeting di negara Gadjah Putih, Thailand. Besoknya anda sudah landing di bandara John F Kennedy, New York. Selanjutnya check in di Grand Hyatt, New York. Tidak lupa anda berbelanja dasi Giani Varsace di Trump Plaza seharga $ 95. Besok paginya anda menikmati indahnya kampus Harvard Business School, di pinggir sungai Charles, untuk memberikan speech tentang bisnis kepada mahasiswa dan pebisnis. Tidak lupa sebelum out dari Negara Paman Sam anda sempatkan mengunjungi High Tech Areadi Silicon Valey. Kemudian anda menandatangani Momerandum of Understanding dengan pejabat dan pebisnis Cina di Shanghai. Siang anda mampir sebentar di Hongkong, sekedar shoping untuk beli oleh-oleh. Berikutnya anda pulang sejenak ke Jakarta sebelum berangkat ke Mealbourne, Australia. Dan keesokannya anda menyaksikan pertunjukan opera di Paris.
Bila ini sudah terjadi dan akan terjadi dalam kehidupan anda ...
Dalam sebuah buku best-seller versi businessweek, yang berjudul The Leadership Challenge, Kouzes dan Posner, pengarang buku tersebut melakukan riset di enam benua. Riset itu meranking kualitas dan karakter yang paling dicari dan dikagumi dari seorang pemimpin. Beberapa karakteristik yang dicari adalah seperti kejujuran, visioner, kompeten, tegas, kooperatif dan lain-lain. Hasil riset menunjukkan karakter yang dicari dan dikagumi selalu sama di masing-masing benua dan di setiap waktu. Yang menarik ternyata dari tahun 1987, 1995 dan 2002 karakter JUJUR adalah karakter teratas yang paling dicari dan dikagumi. Karakter ini di atas karakter visioner yang selama ini biasanya menjadi ciri khas seorang pemimpin.
Ada dua fenomena yang bisa kita petik dari riset ini. Pertama, sekarang ini pemimpin yang jujur sulit didapatkan, baik di pemerintahan, bisnis maupun organisasi nirlaba. Kejujuran sudah seperti barang New Luxury, langka dan berharga premium... bersambung
Banyak diantara kita yang tidak mengetahui jurus utama dalam menyelesaikan masalah, yaitu Takwa.
Menjadi ayah durhaka, koq bisa? Tanpa ilmu kita hanya menjadi ayah yang durhaka. Cerita seorang ayah, anak dan Umar bin Khattab ini semoga menyadarkan kita.
Kita ini makhluk lemah. Ini pesan utama yang mesti kita tangkap ketika Covid melanda peradaban ini. Sebagai pribadi disamping meningkatkan takwa, tawakal dan do’a maka kita perlu berusaha untuk hidup sehat dan bersih, juga berperan memutus mata rantai penularan dengan social distancing.
From the publisher's feed