
Sign up to save your podcasts
Or


Season dua akhirnya sampai di titik ini.
Beberapa episode mungkin terasa ringan. Beberapa mungkin terasa terlalu dekat. Tapi semuanya lahir dari satu niat yang sama: jujur, tanpa gula-gula berlebihan.
Di episode terakhir ini, aku ingin menutup perjalanan season dua dengan satu hal sederhana—kita semua masih bertumbuh. Healing tidak selalu rapi. Bahagia tidak selalu berarti bebas masalah. Dan menjadi dewasa tidak selalu berarti kita sudah selesai dengan luka lama.
Kalau kamu pernah merasa pelan, tertinggal, atau lelah menjaga damai kamu sendiri… semoga ruang kecil ini sempat jadi tempat istirahat.
Hari ini kita ngobrol tentang sesuatu yang kelihatannya remeh banget, bentuknya cuma tombol kecil…
tapi kekuatannya bisa luar biasa besar buat mental dan ketenangan hati kita.
Judulnya:
Unfollow, Mute, Block: Modern Ways to Protect Your Peace.
Episode ini, aku rasa cocok banget buat kamu yang lagi ngerasa hidup tuh kayak penuh kesenangan kecil tapi kok tetap kosong ya?
Atau mungkin kamu ngerasa “aku happy sih… tapi kok cepat hilangnya?”
Hari ini kita ngobrol tentang membedakan antara kebahagiaan… dan dopamin.
Kesendirian sering dianggap aneh atau tanda kesepian. Padahal, ada perbedaan besar antara solitude—kesendirian yang dipilih dengan sadar—dan loneliness—kesepian yang dipaksa oleh keadaan.
Di episode ini, kita ngobrol tentang kenapa solitude itu penting, bagaimana memberi jeda pada diri sendiri tanpa takut dicap “aneh,” dan kenapa kebutuhan ini nggak ada hubungannya dengan introvert atau extrovert. Solitude adalah ruang untuk recharge, bahkan bisa terjadi di tengah keramaian, ketika kita mindful dan sadar sedang “mencas” diri.
Kalau kamu sering takut sendiri, atau justru lagi butuh ruang untuk bernapas, semoga obrolan ini bisa jadi teman yang menenangkan.
Pernah ngerasa ada di fase “tengah-tengah”? Udah bukan di masa lalu, tapi juga belum sampai ke masa depan. Rasanya abu-abu, bikin resah, seolah-olah kita berhenti di ruang tunggu.
Di episode ini, aku ngobrol tentang liminal space—fase transisi yang sering bikin bingung, tapi sebenarnya bisa jadi ruang penting untuk refleksi, recharge, dan mempersiapkan diri sebelum masuk ke bab berikutnya.
Kalau kamu lagi ada di “ruang tunggu” hidupmu, episode ini buat kamu. Karena di sini kita belajar bahwa berada di tengah bukan berarti stuck… tapi justru sedang diproses.
Melepaskan itu bukan berarti kita gak berharga. Justru sebaliknya—itu tanda bahwa kita naik kelas. Kita udah bisa menguasai diri, bukan dikuasai rasa ingin memiliki. Kita bisa bilang ke diri sendiri: ‘Aku lebih besar daripada rasa ini. Aku lebih kuat daripada keinginan ini.’
Pernahkah kamu nulis surat cinta untuk dirimu sendiri? Di episode ini, aku bacain surat yang aku tulis di tahun 2020 — surat sederhana tapi penuh makna. Kita juga ngobrol tentang kenapa menulis surat bisa jadi bentuk self-love, dan aku tantang kamu untuk bikin surat ke dirimu sendiri 5 tahun ke depan. Siap coba?
Sering merasa tertinggal karena membandingkan diri dengan orang lain? Di episode ini, kita ngobrol tentang kenapa hidup bukan perlombaan, fun fact psikologi tentang kenapa kita suka membandingkan diri, dan kenapa fokus pada pertumbuhan diri jauh lebih sehat.
Karena progres nyata itu terukur dari diri kita sendiri, bukan dari standar orang lain. Your pace, your race
Kadang kita merasa bersalah hanya karena butuh istirahat. Seolah produktivitas adalah satu-satunya ukuran berharga. Di episode ini, aku ngobrol tentang kenapa rasa guilty itu muncul, ciri-ciri tubuh dan hati yang sebenarnya udah minta istirahat, dan bagaimana mindful saat lelah bisa jadi bentuk kasih sayang ke diri sendiri. Karena istirahat bukan tanda gagal .. tapi tanda kita manusia.
Kadang kita merasa memulai ulang itu sama aja dengan gagal. Padahal, setiap starting over selalu datang dengan bekal baru: pengalaman, pelajaran, dan kebijaksanaan. Episode ini mengajakmu melihat ulang arti mulai dari awal, yang sebenarnya nggak pernah benar-benar dari nol.
From the publisher's feed