
Sign up to save your podcasts
Or


Pada tanggal 2 September 2023 dini hari, terjadi insiden perkelahian massal yang melibatkan Pekerja Migran Asing (PMA) asal Indonesia di alun-alun Stasiun Kereta Api Changhua.
Para pelaku perkelahian membawa senjata tajam, membuat pertikaian pecah dengan cepat. Akibatnya, satu orang tewas dan satu lainnya luka-luka. Setelah penyelidikan oleh polisi, diketahui bahwa insiden ini bermula dari perselisihan antara dua kelompok seni bela diri.
Kepala Kantor Kepolisian Changhua Chang Ming-sheng (張明盛) menyampaikan bahwa sekitar pukul 23.00 malam (2/9), aparat kepolisian menerima laporan dari masyarakat perihal sejumlah PMA yang tengah terlibat dalam perkelahian di alun-alun Stasiun Kereta Api Changhua.
Aparat yang bertugas segera merespons dan tiba di lokasi untuk mengendalikan situasi.
Setibanya di lokasi kejadian, mereka menemukan dua PMI yang telah mengalami luka-luka akibat dikeroyok, bahkan satu di antaranya mengalami luka tusukan yang cukup serius.
Aparat kemudian menahan lalu menggiring 29 PMI yang berada di lokasi untuk segera menuju ke kantor polisi guna dilakukan investigasi.
Melalui pelacakan kamera pengawas CCTV, aparat yang bertugas memastikan bahwa ada 15 PMI yang terlibat langsung dalam aksi perkelahian bersangkutan.
Menurut penyelidikan polisi, insiden perkelahian ini dipicu oleh konflik antara dua kelompok seni bela diri yang sebelumnya telah saling mencoba untuk bernegosiasi.
Pada hari negosiasi tiba (hari insiden perkelahian terjadi), para anggota dari kedua kelompok tersebut membawa berbagai senjata tajam seperti pisau lipat, pedang belati, dan senjata tajam lainnya. Pertikaian pun akhirnya tidak dapat dihindarkan lagi.
Insiden perkelahian ini menyebabkan satu orang tewas dan satu lainnya terluka. Korban tewas diketahui adalah seorang PMI berusia 32 tahun.
Pihak berwenang telah menghubungi Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei untuk membantu memproses pemakaman korban.
Menurut informasi yang diperoleh, aparat kepolisian juga akan memproses salah satu orang yang diduga adalah pelaku utama, yakni PMI dengan usia 24 tahun untuk segera ditangani berdasarkan hukum yang berlaku di Taiwan.
Pada saat yang sama, pihak agensi dan perusahaan yang menjadi tempat di mana para pelaku bekerja juga diminta untuk meningkatkan pengawasan yang relevan.
Taifun Haikui
Taifun Haikui menerpa kawasan Taiwan semenjak Minggu siang kemarin (3/9). Beberapa titik di kawasan timur Taiwan, seperti Taitung dan Hualien diberitakan porak-poranda akibat terpaan angin kencang dan hujan deras.
Tapi tahukah Anda ternyata ada kisah memilukan di balik penamaan taifun Haikui. Taifun Haikui sendiri sebenarnya memiliki nama asli yaitu taifun Longwang.
Dalam aksara Mandarin Longwang terdiri dari 2 kata, yakni 龍 (baca: Lóng) yang berarti naga, dan 王 (baca: Wáng) yang berarti raja. Jadi, secara harfiah, Longwang (龍王) dapat diartikan sebagai “Raja Naga”.
Pemberian nama-nama pada fenomena taifun diserahkan kepada 14 negara di dunia. Atau dengan kata lain, 14 negara tersebut dipersilakan untuk memberikan 140 nama/julukan terhadap taifun-taifun yang akan terjadi nantinya.
Daftar 140 Nama Taifun dari 14 Negara Anggota WMO
Biro Klimatologi Sentral (CWB) di Taiwan menyampaikan, pemberian nama-nama taifun diserahkan kepada 14 negara anggota Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang terletak di perbatasan Samudera Pasifik Barat Laut.
14 negara tersebut adalah Kamboja, Tiongkok, Korea Utara, Hong Kong, Jepang, Laos, Macau, Malaysia, Federasi Mikronesia, Filipina, Korea Selatan, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam.
Ke 14 negara di atas diminta untuk memberikan 10 nama, yang kemudian disusun menjadi sebuah daftar dengan total nama taifun sebanyak 140 nama.
Dan karena jumlah taifun yang terjadi di perairan Samudera Pasifik Barat Laut setiap tahunnya mencapai rata-rata 26 kali, maka penggunaan 140 nama tersebut baru habis terpakai sebanyak 5-6 tahun.
Setelah habis dipakai, maka penamaan taifun akan kembali ke nama awal dan seterusnya.
Dan kebetulan nama taifun Longwang sendiri diberikan oleh Tiongkok.
Terjangan taifun Longwang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa serius di Tiongkok
Taifun Longwang melanda pada bulan September 2005. Taifun ini menyebabkan 2 kematian dan 73 korban luka-luka di Taiwan. Di kala tersebut, taifun Longwang menyisakan luka yang cukup mendalam, beberapa rumah warga tertutup oleh tanah longsor, bahkan kawasan Desa Xiulin di Hualien diberitakan mengalami kerusakan parah.
Sehabis menyapu Taiwan, taifun Longwang langsung mendatangi kawasan Daratan Tiongkok. Taifun Longwang ternyata mendatangkan musibah yang lebih gawat di sana.
Otoritas Tiongok melaporkan ada sekitar 147 warga mereka yang tewas dan 39 lainnya luka-luka akibat terjangan taifun Longwang.
Dan karena alasan itulah, pada tahun 2007, pihak Tiongkok meminta agar nama Longwang diganti menjadi Haikui (海葵). Nama Haikui sendiri pertama kali digunakan pada tahun 2012. Diharapkan agar taifun Haikui tidak menimbulkan bencana serius seperti pendahulunya, taifun Longwang (Raja Naga).
By Farini Anwar, Amina Tjandra, Yunus Hendry, Tony Thamsir, RtiPada tanggal 2 September 2023 dini hari, terjadi insiden perkelahian massal yang melibatkan Pekerja Migran Asing (PMA) asal Indonesia di alun-alun Stasiun Kereta Api Changhua.
Para pelaku perkelahian membawa senjata tajam, membuat pertikaian pecah dengan cepat. Akibatnya, satu orang tewas dan satu lainnya luka-luka. Setelah penyelidikan oleh polisi, diketahui bahwa insiden ini bermula dari perselisihan antara dua kelompok seni bela diri.
Kepala Kantor Kepolisian Changhua Chang Ming-sheng (張明盛) menyampaikan bahwa sekitar pukul 23.00 malam (2/9), aparat kepolisian menerima laporan dari masyarakat perihal sejumlah PMA yang tengah terlibat dalam perkelahian di alun-alun Stasiun Kereta Api Changhua.
Aparat yang bertugas segera merespons dan tiba di lokasi untuk mengendalikan situasi.
Setibanya di lokasi kejadian, mereka menemukan dua PMI yang telah mengalami luka-luka akibat dikeroyok, bahkan satu di antaranya mengalami luka tusukan yang cukup serius.
Aparat kemudian menahan lalu menggiring 29 PMI yang berada di lokasi untuk segera menuju ke kantor polisi guna dilakukan investigasi.
Melalui pelacakan kamera pengawas CCTV, aparat yang bertugas memastikan bahwa ada 15 PMI yang terlibat langsung dalam aksi perkelahian bersangkutan.
Menurut penyelidikan polisi, insiden perkelahian ini dipicu oleh konflik antara dua kelompok seni bela diri yang sebelumnya telah saling mencoba untuk bernegosiasi.
Pada hari negosiasi tiba (hari insiden perkelahian terjadi), para anggota dari kedua kelompok tersebut membawa berbagai senjata tajam seperti pisau lipat, pedang belati, dan senjata tajam lainnya. Pertikaian pun akhirnya tidak dapat dihindarkan lagi.
Insiden perkelahian ini menyebabkan satu orang tewas dan satu lainnya terluka. Korban tewas diketahui adalah seorang PMI berusia 32 tahun.
Pihak berwenang telah menghubungi Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei untuk membantu memproses pemakaman korban.
Menurut informasi yang diperoleh, aparat kepolisian juga akan memproses salah satu orang yang diduga adalah pelaku utama, yakni PMI dengan usia 24 tahun untuk segera ditangani berdasarkan hukum yang berlaku di Taiwan.
Pada saat yang sama, pihak agensi dan perusahaan yang menjadi tempat di mana para pelaku bekerja juga diminta untuk meningkatkan pengawasan yang relevan.
Taifun Haikui
Taifun Haikui menerpa kawasan Taiwan semenjak Minggu siang kemarin (3/9). Beberapa titik di kawasan timur Taiwan, seperti Taitung dan Hualien diberitakan porak-poranda akibat terpaan angin kencang dan hujan deras.
Tapi tahukah Anda ternyata ada kisah memilukan di balik penamaan taifun Haikui. Taifun Haikui sendiri sebenarnya memiliki nama asli yaitu taifun Longwang.
Dalam aksara Mandarin Longwang terdiri dari 2 kata, yakni 龍 (baca: Lóng) yang berarti naga, dan 王 (baca: Wáng) yang berarti raja. Jadi, secara harfiah, Longwang (龍王) dapat diartikan sebagai “Raja Naga”.
Pemberian nama-nama pada fenomena taifun diserahkan kepada 14 negara di dunia. Atau dengan kata lain, 14 negara tersebut dipersilakan untuk memberikan 140 nama/julukan terhadap taifun-taifun yang akan terjadi nantinya.
Daftar 140 Nama Taifun dari 14 Negara Anggota WMO
Biro Klimatologi Sentral (CWB) di Taiwan menyampaikan, pemberian nama-nama taifun diserahkan kepada 14 negara anggota Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang terletak di perbatasan Samudera Pasifik Barat Laut.
14 negara tersebut adalah Kamboja, Tiongkok, Korea Utara, Hong Kong, Jepang, Laos, Macau, Malaysia, Federasi Mikronesia, Filipina, Korea Selatan, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam.
Ke 14 negara di atas diminta untuk memberikan 10 nama, yang kemudian disusun menjadi sebuah daftar dengan total nama taifun sebanyak 140 nama.
Dan karena jumlah taifun yang terjadi di perairan Samudera Pasifik Barat Laut setiap tahunnya mencapai rata-rata 26 kali, maka penggunaan 140 nama tersebut baru habis terpakai sebanyak 5-6 tahun.
Setelah habis dipakai, maka penamaan taifun akan kembali ke nama awal dan seterusnya.
Dan kebetulan nama taifun Longwang sendiri diberikan oleh Tiongkok.
Terjangan taifun Longwang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa serius di Tiongkok
Taifun Longwang melanda pada bulan September 2005. Taifun ini menyebabkan 2 kematian dan 73 korban luka-luka di Taiwan. Di kala tersebut, taifun Longwang menyisakan luka yang cukup mendalam, beberapa rumah warga tertutup oleh tanah longsor, bahkan kawasan Desa Xiulin di Hualien diberitakan mengalami kerusakan parah.
Sehabis menyapu Taiwan, taifun Longwang langsung mendatangi kawasan Daratan Tiongkok. Taifun Longwang ternyata mendatangkan musibah yang lebih gawat di sana.
Otoritas Tiongok melaporkan ada sekitar 147 warga mereka yang tewas dan 39 lainnya luka-luka akibat terjangan taifun Longwang.
Dan karena alasan itulah, pada tahun 2007, pihak Tiongkok meminta agar nama Longwang diganti menjadi Haikui (海葵). Nama Haikui sendiri pertama kali digunakan pada tahun 2012. Diharapkan agar taifun Haikui tidak menimbulkan bencana serius seperti pendahulunya, taifun Longwang (Raja Naga).